Pada tubuh manusia, air atau cairan memiliki berbagai fungsi yang membantu agar organ-organ tubuh dapat bekerja dengan baik. (Ilustrasi/Pexels)
Pada tubuh manusia, air atau cairan memiliki berbagai fungsi yang membantu agar organ-organ tubuh dapat bekerja dengan baik. (Ilustrasi/Pexels)

Bahaya Dehidrasi pada Anak dan Cara Penanganannya

Rona dehidrasi
Raka Lestari • 13 Juni 2020 13:37
Jakarta: Air atau cairan memiliki peran yang sangat penting dalam kelangusngan hidup manusia. Pada tubuh manusia, air atau cairan memiliki berbagai fungsi yang membantu agar organ-organ tubuh dapat bekerja dengan baik.
 
Kurangnya asupan air/cairan dapat menyebabkan berkurangnya total body water atau dehidrasi yang menyebabkan terganggunya performa fisik kognitif, konstipasi, gangguan fungsi ginjal, atau bahkan kulit kering.
 
“Dehidrasi terdiri atas dehidrasi derajat ringan-sedang dan dehidrasi berat. Keduanya memiliki gejala dan tanda yang berbeda sesuai dengan derajat dehidrasinya,” ujar Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp. A(K), dokter spesialis anak konsultan, dalam acara diskusi virtual yang dilakukan Johnson’s Parent Club Expert Class, Jumat, 12 Juni 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anak-anak cenderung lebih mudah mengalami dehidrasi daripada orang dewasa. Pada anak-anak, dehidrasi paling sering terjadi akibat infeksi virus atau bakteri yang menyebabkan diare ataupun muntah.
 
“Gejala dehidrasi yang dapat dilihat orangtua antara lain ubun-ubun cekung pada bayi, buang air kecil sedikit dan pekat atau tidak ada sama sekali, air mata tidak keluar, dan tampak kehausan,” ujar Dr. Ariani.
 
Selain kehilangan air/cairan, dehidrasi juga menyebabkan seseorang kehilangan elektrolit (Na, K,Cl). Dan dehidrasi menyebabkan tubuh paling sering kehilangan natrium dan kalium yang berfungsi untuk membantu fungsi otot dan saraf, menyeimbangkan elektrolit di dalam tubuh, menjaga pertumbuhan tubuh yang normal, dan mengontrol keseimbangan asam-basa tubuh maupun menjaga kesehatan jantung.
 
“Penanganan pertama dehidrasi pada anak adalah dengan memberikan cairan dan untuk dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit diberikan Cairan Rehidrasi Oral (CRO) yang biasanya dikenal sebagai oralit,” ujar Dr. Ariani.
 
Menurut Dr. Ariani, pada tahun 2005 WHO merekomendasikan penggunaan CRO osmolaritas rendah (245 mOsm/L) untuk menggantikan versi oralit sebelumnya (311 mOsm/L).
 
“Selain osmolaritas, faktor lain yang juga penting dalam keberhasilan pemberian oralit pada anak adalah volume, frekuensi pemberian, dan rasanya. Selalu perhatikan jumlah total asupan cairan harian anak agar mereka tetap terhidrasi,” tutup Dr. Ariani.
 

 
(YDH)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif