NEWSTICKER
Mantan pasien dari luar negeri bercerita tentang pengalamannya menghadapi covid-19. (Foto: Pexels.com)
Mantan pasien dari luar negeri bercerita tentang pengalamannya menghadapi covid-19. (Foto: Pexels.com)

Mantan Pasien Ungkap Covid-19 Berbeda dengan Flu

Rona covid-19 pasien virus korona sembuh,
Kumara Anggita • 25 Maret 2020 09:00
Jakarta: Saat ini kasus covid-19 di seluruh dunia sudah mencapai 330 ribuan kasus, dan orang yang sembuh sebanyak 101 ribuan. Hal ini menunjukkan bahwa kita boleh lebih optimis menghadapinya. Ini karena ternyata banyak pula orang yang bisa melawan penyakit ini.
 
Salah satu pasien dari luar negeri pun bercerita tentang pengalamannya menghadapi covid-19. Menurutnya, apa yang dia rasakan berbeda dengan flu walaupun memang gejala flu dan covid-19 memiliki banyak kemiripan. 
 
Chiara DiGiallorenzo, 25 tahun yang berlokasi di Miami yang telah berjuang melawan covid-19 sejak 6 Maret 2020 lalu dimulai dengan demam dan rasa lelah. Ini adalah gejala yang serupa dengan flu namun dia tahu ada sesuatu yang berbeda ketika dia merasakan sesak di dadanya yang membuat dia kehabisan napas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Ini bukan flu," kata DiGiallorenzo, menekankan fakta bahwa banyak orang yang memiliki covid-19 merasakan hal yang serupa dengannya.
 
Christy, seorang perempuan di Seattle yang baru saja pulih dari covid-19, juga berharap-orang akan berhenti menyebutnya pilek. Penyakitnya dimulai dengan demam yang berkembang menjadi hidung tersumbat, sakit kepala. Dia pula jadi sulit untik berfokus. 
 

(Ia menjelaskan covid-19 di laman Instagramnya. Foto: Dok. Instagram Chiara Digiallorenzo/@chiaradigiallorenzo)
 
"Ini bukan hanya flu," kata Christy. “Aku cukup sehat dan tidak tua (di usia 40-an), dan covid-19 menimpaku,” lanjutnya.
 
Sekitar 80 persen orang yang terkena covid-19 akan mengalami apa yang disebut dokter sebagai gejala ringan. Ini ditandai dengan demam ringan, batuk kering dan bisa sembuh sendiri di rumah. Akan tetapi, bukan berarti orang dengan risiko lebih rendah harus menganggapnya secara tak serius. 
 
Banyak orang yang pernah mengalami covid-19 mengatakan frustasi melihat orang-orang meremehkan ancaman, dan jalan-jalan bersama di bar dan di pantai.
 
"Saya hanya berharap orang akan sedikit lebih peduli dengan orang-orang (yang memiliki risiko lebih tinggi) daripada hanya peduli dengan diri mereka sendiri," kata Trevor Mankin, mantan pasien korona di Seattle.
 
Dia meminta orang untuk berpikir tidak hanya tentang kebutuhan mereka sendiri, tetapi tentang orang lain juga. DiGiallorenzo telah berusaha untuk mengajar generasi milenial lain tentang pandemi. Dia menjadi host Q&A di halaman Instagram-nya untuk membuka dialog dan membantu destigmatisasi virus di antara teman-temannya.
 
Dia ingin orang yang lebih muda tahu bahwa mereka bisa sakit juga, terutama jika mereka memiliki masalah kesehatan yang mendasarinya. "Tidak ada yang tak terkalahkan dalam hal ini," kata DiGiallorenzo.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif