dr. Anung Sugihantono, M.Kes (Foto: Raka/Medcom.id)
dr. Anung Sugihantono, M.Kes (Foto: Raka/Medcom.id)

Kejadian Antraks di Gunung Kidul dan Cara Pencegahannya

Rona antraks
Raka Lestari • 20 Januari 2020 18:40
Jakarta: Sebanyak 27 warga di Kecamatan Ponjong dan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dinyatakan positif antraks. Kejadian ini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
 
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, menjelaskan, kejadian tersebut pertama diketahui pada 27 Desember 2019.
 
"Kemudian kejadian pada orang tanggal 28 Desember 2019. Pada tahun 2019 minggu ke 52 kami mendapat laporan terdapat 21 orang dengan tanda klinis baik gejala maupun tanda positif antraks,” ujar Anung dalam acara Konferensi Pers Terkait Antraks di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin, 20 Januari 2020.
 
Antraks adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang dapat menyerang hewan dan manusia. Masa inkubasi antraks sendiri 7 hari, tetapi umumnya berkisar antara 2-5 hari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gejala dan tanda pada Antraks kulit adalah luka pada kulit berwarna hitam dan mengering dikelilingi bengkak. Sementara antraks pencernaan di antaranya meliputi demam, mual, muntah darah, nafsu makan menurun, nyeri perut, dan diare berdarah. Sedangkan Antraks Pernafasan gejalanya adalah demam, batuk, sesak nafas.
 
Antraks bisa ditularkan melalui udara yang mengandung spora bakteri, makanan atau daging yang terkontaminasi bakteri antraks, rumput mengandung spora bakeri antraks, produk hewan mengandung bakteri antraks, dan bahan pakan yang terkontaminasi bakteri antraks.
 
Menurut Anung, pencegahan dan pengendalian antraks pada manusia bisa dengan berbagai cara. Yaitu jika sakit dengan gejala antraks segera ke Puskesmas atau rumah sakit, menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boots dan sarung tangan bila kontak dengan hewan sakit atau mati.
 
"Bisa juga mencuci tangan setelah memegang hewan ternak sakit atau mengolah bahan hewan, tidak mengonsumsi bahan makanan asal hewan yang sakit, tidak menyembelih hewan ternak sakit, tidak membuang sembarangan bahan asal hewan ternak yang sakit atau mati," terang Anung.
 
Pencegahan antraks pun bermacam-macam. Bisa melalui lingkungan yaitu dengan cara mengubur bangkai hewan yang mati karena antraks dan memberi tanda khusus pada kuburannya.
 
Kemudian tidak menggali kuburan hewan mati akibat antraks, menggunakan desinfektan pada kandang dan halaman bekas hewan terjangkit antraks. Lalu diperhatikan juga peralatan yang kontak dengan hewan terjangkit, pengawasan tempat penjualan ternak atau pasar hewan, dan pengawasan sumber air yang terkontaminasi hewan antraks.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif