Diet bebas gluten atau kasein diyakini sebagai salah satu dari beberapa perawatan alternatif untuk anak penyandang autisme. (Foto Ilustrasi: Unsplash)
Diet bebas gluten atau kasein diyakini sebagai salah satu dari beberapa perawatan alternatif untuk anak penyandang autisme. (Foto Ilustrasi: Unsplash)

Apakah Diet Bebas Gluten Baik untuk Penyandang Autisme?

Rona autisme
Sunnaholomi Halakrispen • 11 Juli 2019 06:00
Sejauh ini baru sedikit penelitian yang telah dilakukan tentang diet bebas gluten atau bebas kasein untuk penyandang autisme. Meski begitu, diet ini sudah semakin populer dan diterapkan oleh orangtua yang memiliki anak penyandang autisme.
 
Jakarta: Gangguan spektrum autisme merupakan gangguan perkembangan yang memengaruhi anak-anak terhadap kemampuan mereka berkomunikasi dan berinteraksi secara sosial. Untuk mengurangi gejala autisme anak, orang tua sering mencoba pengobatan alternatif seperti diet khusus.
 
Akhir-akhir ini, diet bebas gluten atau bebas kasein semakin populer. Beberapa orangtua mendapatkan hasil positif dengan adanya diet ini terhadap anak-anak mereka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, baru sedikit penelitian yang telah dilakukan tentang diet bebas gluten atau bebas kasein untuk penyandang autisme. Akibatnya, ada sebagian orangtua bertanya-tanya apakah diet ini benar-benar membuat perbedaan pada gejala anak penyandang autisme.
 
Sebagian lagi juga percaya bahwa anak-anak dengan autisme membatasi asupan mereka sendiri. Sebab, mereka lebih suka makanan hambar seperti roti putih. Dengan demikian pertanyaannya, apakah gluten menyebabkan autisme atau apakah autisme membatasi variasi asupan makanan anak?
 
Diet bebas gluten atau kasein diyakini sebagai salah satu dari beberapa perawatan alternatif untuk anak penyandang autisme. Saat mengikuti diet eliminasi ketat ini, semua makanan yang mengandung gluten atau kasein dijauhkan dari asupan makanan harian anak. Biasanya ditemukan dalam gandum, susu, dan produk susu.
 
Beberapa orangtua dari yang mempunyai anak-anak dengan autisme percaya, buah hati mereka alergi atau sensitif terhadap komponen yang ditemukan dalam makanan ini. Sebagian lainnya mencari tahu dengan konfirmasi melalui tes alergi.
 
Namun, bahkan ketika tidak ada alergi yang dikonfirmasi dokter, banyak orang tua dari anak-anak autisme masih memilih untuk melakukan diet gluten atau kasein. Manfaatnya, ada perubahan bicara dan perilaku.
 
Manfaat itu didasarkan pada teori bahwa anak-anak dengan autisme mungkin memiliki alergi atau sensitivitas tinggi terhadap makanan yang mengandung gluten atau kasein. Anak-anak dengan autisme, menurut teori, memproses peptida dan protein dalam makanan yang mengandung gluten dan kasein berbeda dari orang lain.
 
Secara hipotesis, perbedaan dalam pemrosesan ini dapat memperburuk gejala autisme. Beberapa orang percaya bahwa otak memperlakukan protein-protein ini seperti bahan-bahan kimia layaknya obat palsu.
 
Reaksi terhadap bahan kimia ini, kata mereka, menuntun seorang anak untuk bertindak dengan cara tertentu. Gagasan di balik penggunaan diet, untuk mengurangi gejala dan meningkatkan perilaku sosial, kognitif, dan ucapan.
 
Sementara itu, para peneliti telah menemukan kadar peptida abnormal dalam cairan tubuh beberapa orang yang memiliki gejala autisme. Namun, efektivitas diet bebas gluten atau kasein untuk autisme belum didukung oleh penelitian medis.
 
Pada kenyataannya, review dari studi baru-baru ini dan sebelumnya menyimpulkan ada kekurangan bukti ilmiah untuk mengatakan apakah diet ini dapat membantu anak autisme atau tidak.
 
Sayangnya, menghilangkan semua sumber gluten dan kasein begitu sulit, sehingga melakukan uji klinis acak pada anak-anak mungkin terbukti sangat sulit. Gluten menyediakan struktur atau mengikat produk yang dipanggang.
 
Meskipun cukup sulit untuk menghindari gluten, banyak toko, terutama toko makanan alami, memajang makanan di area bebas gluten di toko. Namun, penting untuk membaca label nutrisi untuk melihat apakah ada aditif yang mengandung gluten.
 
Ketika seseorang melakukan diet bebas gluten, sebagian besar produk roti dan biji-bijian dilarang. Karena itu, penting untuk memastikan bahwa anak Anda menerima banyak serat, vitamin, dan mineral. Suplemen dapat membantu menebus kekurangan nutrisi ini ketika makanan yang mengandung gluten dihilangkan.
 
Sebaiknya, sebelum melakukan perubahan ke diet gluten atau kasein, konsultasikan dengan dokter anak Anda. Ahli diet berlisensi dapat membimbing Anda dengan tepat tentang diet tersebut dan membantu Anda menyesuaikan diet dengan kebutuhan kesehatan dan preferensi selera anak Anda.
 
Deretan Tokoh Dunia Penyandang Autisme

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif