Harry Witchel dari Divisi Fisiologi di BSMS mengatakan teori ekologi perilaku menunjukkan bahwa semua senyum adalah alat yang digunakan dalam interaksi sosial. (Foto: Pexels.com)
Harry Witchel dari Divisi Fisiologi di BSMS mengatakan teori ekologi perilaku menunjukkan bahwa semua senyum adalah alat yang digunakan dalam interaksi sosial. (Foto: Pexels.com)

Studi: Tersenyum Tidak Selalu Berarti Bahagia

Rona psikologi
Anda Nurlaila • 18 Maret 2019 12:31
Harry Witchel dari Divisi Fisiologi di BSMS mengatakan teori ekologi perilaku menunjukkan bahwa semua senyum adalah alat yang digunakan dalam interaksi sosial. Secara statistik, emosi yang paling terkait dengan tersenyum adalah 'keterlibatan',  bukan 'kebahagiaan' atau 'frustrasi'.
 

 
Jakarta:
Senyum merupakan salah satu ekspresi wajah yang menyiratkan bahwa seseorang bahagia saat terlibat dengan orang lain atau sekelompok orang. Namun penelitian Brighton and Sussex Medical School (BSMS) menyimpulkan senyum tidak selalu berarti seseorang merasa senang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Studi dipimpin ahli bahasa tubuh Harry Witchel dari Divisi Fisiologi di BSMS. Witchel mengklaim bahwa cara orang sering berperilaku selama Interaksi Manusia-Komputer (HCI) adalah seolah-olah mereka terlibat secara sosial.
 
Penelitiannya melibatkan meminta 44 peserta berusia 18-35 untuk memainkan permainan kuis geografi yang terdiri dari sembilan pertanyaan sulit sehingga mereka sering mendapat jawaban yang salah. Peserta yang duduk berinteraksi dengan komputer sendirian di sebuah ruangan sementara wajah mereka direkam video.
 
Setelah kuis, para peserta diminta untuk menilai pengalaman subjektif mereka menggunakan 12 emosi, termasuk 'bosan', 'tertarik' dan 'frustrasi'.
 
Sementara itu, ekspresi wajah spontan mereka kemudian dianalisis komputer frame demi frame untuk menilai seberapa banyak mereka tersenyum berdasarkan skala antara 0 hingga 1.
 
Studi: Tersenyum Tidak Selalu Berarti Bahagia
(Penelitian Brighton and Sussex Medical School (BSMS) menyimpulkan senyum tidak selalu berarti seseorang merasa senang. Foto: Pexels.com)
 
(Baca juga: Tersenyum Bisa Bikin Olahraga Lebih Optimal)
 
Witchel berkata "Menurut beberapa peneliti, senyum yang tulus mencerminkan keadaan batin dari keceriaan atau hiburan," katanya seperti dikutip Sciencedaily.
 
Namun, Witchel menambahkan, teori ekologi perilaku menunjukkan bahwa semua senyum adalah alat yang digunakan dalam interaksi sosial. Teori itu mengklaim bahwa keceriaan tidak diperlukan atau tidak cukup untuk tersenyum.
 
"Penelitian kami menunjukkan bahwa dalam percobaan Interaksi Manusia-Komputer ini, tersenyum tidak didorong oleh kebahagiaan. Senyum terkait dengan keterlibatan subjektif, yang bertindak seperti bahan bakar sosial untuk tersenyum, bahkan ketika sendirian di hadapan komputer."
 
Secara statistik, emosi yang paling terkait dengan tersenyum adalah 'keterlibatan',  bukan 'kebahagiaan' atau 'frustrasi'.
 
Semua senyum yang ditangkap komputer masing-masing dianalisis dan diubah menjadi sembilan pertanyaan selama sesi tanya jawab. Peserta cenderung tidak tersenyum ketika mereka mencoba mencari tahu jawabannya.
 
Namun, mereka benar-benar tersenyum setelah permainan komputer memberi tahu mereka apakah jawaban mereka benar atau salah.  Dan yang mengejutkan, para peserta lebih sering tersenyum ketika jawaban mereka salah.
 
Witchel menambahkan, "Selama kuis yang terkomputerisasi ini, tersenyum secara radikal meningkat setelah menjawab pertanyaan dengan tidak tepat. Perilaku ini dapat dijelaskan dengan peringkat diri dari keterlibatan, bukan oleh peringkat kebahagiaan atau frustrasi."
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(TIN)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif