Ada sejumlah hal selain hipertensi yang merupakan tanda penyakit jantung namun sering kali disepelekan masyarakat. (Foto: Pexels.com)
Ada sejumlah hal selain hipertensi yang merupakan tanda penyakit jantung namun sering kali disepelekan masyarakat. (Foto: Pexels.com)

Hubungan Hipertensi dengan Kematian Mendadak

Rona hipertensi
Sunnaholomi Halakrispen • 01 Maret 2020 12:40
Jakarta: Menurut pusat data dan informasi Kemenkes RI, definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali
pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. 
 
Dan seperti tertera dalam laman resmi Kemkes.go.id, sampai saat ini hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Karena hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer kesehatan. Hal itu merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8 persen sesuai dengan data Riskesdas 2013. 
 
Lalu apakah hipertensi merupakan salah satu penyakit yang berisiko pada kematian. Namun, apakah juga berisiko menyebabkan kematian mendadak?

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hipertensi sendiri bisa terjadi karena adanya masalah di jantung dan pembuluh darah. Dr. Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP (K) menyatakan, apabila terdapat masalah di pembuluh darah maka tekanan darah akibat pembuluh darah salah satunya robeknya pembuluh darah. 
 
"Kalau di jantungnya sendiri di organ jantung ada penebalan otot jantung. Penebalan otot jantung risiko adanya mati mendadak sebenarnya," ujar dr. Ario di Kantor Sekretariat InaSH, Bendungan Hilir, Jakarta Selatan. 
 
Apabila mereka yang dengan penebalan otot jantung dengan hipertensi, ada risiko kematian mendadak tiga kali lipat. Kemudian, mereka yang hipertensi saja tanpa ada penebalan jantung, juga berisiko tiga kali lipat kematian mendadak dibandingkan mereka yang tidak hipertensi.
 
"Risikonya akan meningkat lagi kalau ada penebalan dan penebalan kaitannya dengan pneumoni lama, peumoni lama lebih sensitif pada mereka yang otot jantungnya tebal," paparnya.
 
Sementara itu, penebalan jantung bisa diakibatkan oleh diabetes tanpa hubungan dengan tekanan darah. Bahkan, kata dr. Ario, penebalan dari otot jantung sendiri banyak hubungan dengan tekanan darah.
 
"Semakin tinggi tekanan darah terekspos dengan tekanan darah yang tinggi yang lebih banyak, bisa menimbulkan tekanan darah," jelasnya.
 
Ia memaparkan bahwa ada sejumlah hal selain hipertensi yang merupakan tanda penyakit jantung namun sering kali disepelekan masyarakat. Di antaranya, nyeri di bagian dada, bahkan seperti masuk angin yang bisa jadi pertanda serangan jantung.
 
"Pusing kepala bisa, riwayat pingsan, dada berat atau napas berat saat beraktivitas. Debar irama jantung kadang-kadang cepat, kadang-kadang lembat, itu juga bisa merupkan tanda penyakit jantung. Tapi enggak selalu ya, karena keluhannya macam-macam," pungkasnya.
 
Jadi ada baiknya Anda memeriksakan diri jika ada tanda-tanda di atas atau cek secara teratur jika memiliki hipertensi di tempat layanan kesehatan terdekat dari rumah Anda.
 


 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif