Paru-paru basah adalah gangguan sistem kekebalan tubuh yang memengaruhi paru-paru dan terjadi pada beberapa orang setelah menghirup zat tertentu. Paru-paru dapat meradang sebagai reaksi alergi terhadap debu yang dihirup, jamur, atau bahan kimia.
Tentu saja ini tidak semua dialami mereka yang menghirup vape karena semua tergantung pada bagaimana sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat-zat tertentu.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Dilansir dari laman tersebut, faktor tertentu juga dapat meningkatkan risiko Anda terkena paru-paru basah sepertu usia, lingkungan, riwayat keluarga, genetika, kebiasaan gaya hidup dan jenis kelamin.
Paru-paru basah yang diketahui sejak dini dapat diobati. Tapi, jika Anda terpapar terus menerus dengan zat yang mengganggu kekebalan tubuh, ini dapat menyebabkan jaringan parut permanen di paru-paru sehingga membuatnya sulit untuk bernapas.

(Pada rokok elektrik, cairan yang digunakan di dalamnya biasanya mengandung nikotin bersama dengan pelarut dan perasa lainnya. Foto: Daniel Thürler/Unsplash.com)
(Baca juga: Berbeda Secara Proses, Vape dan Rokok Sama-Sama Bahaya)
Masih dalam laman yang sama, disebutkan bahwa Anda dapat mengembangkan risiko paru-paru basah dengan terpapar hal-hal berikut ini.
1. Bulu binatang
2. Sistem AC, humidifier dan ventilasi
3. Kotoran burung
4. Makanan yang terkontaminasi seperti keju, anggur, barley, tebu
5. Produk yang terkontaminasi seperti selubung bungkus sosi dan gabus
6. Cairan logan yang terkontaminasi
7. Debu kayu
8. Pakan ternak hay atau gandum
Pada rokok elektrik, cairan yang digunakan di dalamnya biasanya mengandung nikotin bersama dengan pelarut dan perasa lainnya. Ketika Anda menyemprotkan bahan-bahan tersebut misalnya dengan mengubah menjadi uap, akan sulit untuk mengetahui mana yang memicu reaksi.
Adapun gejala paru-paru basah yang perlu diperhatikan seperti flu yang menyebabkan demam, menggigil, nyeri otot atau sendi, sakit kepala, batuk yang berderak, bronkitis kronis, sesak napas, penurunan berat badan dan kelelahan. Namun, sekali lagi semuanya tergantung pada sistem kekebalan tubuh Anda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
