Cuaca Dingin Rentan Terkena Serangan Jantung?
Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa suhu udara yang dingin membuat resiko serangan jantung semakin tinggi. (Foto: IB Wira Dyatmika/Unsplash.com)
Jakarta: Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa suhu udara yang dingin membuat resiko serangan jantung semakin tinggi.

Studi yang dilakukan oleh British Heart Foundation tersebut menemukan bahwa serangan jantung lebih sering terjadi pada musim dingin dibandingkan musim panas.

Ahli jantung dari Leeds General Infirmary tersebut membandingkan informasi dari 4.056 orang yang mendapat perawatan serangan jantung dalam empat tahun berbeda.


Mereka menemukan bahwa kebanyakan serangan jantung parah lebih mematikan dalam enam bulan terdingin, dibandingkan dengan yang terhangat.

Jumlah keseluruhan serangan jantung kira-kira sama pada paruh terdingin dalam setahun dengan serangan jantung paling serius yang menyebabkan serangan jantung dan syok kardiogenik, dibandingkan dengan bulan-bulan hangat (52 persen antara November dan April). 

Risiko kematian dalam 30 hari akibat serangan jantung yang parah hampir 50 persen lebih tinggi dalam enam bulan terdingin, dibandingkan dengan enam bulan terpanas (28 persen dan 20 persen).


(Studi yang dilakukan oleh British Heart Foundation tersebut menemukan bahwa serangan jantung lebih sering terjadi pada musim dingin dibandingkan musim panas. Foto: Shayd Johnson/Unsplash.com)

(Baca juga: Tekanan Kerja Picu Denyut Jantung Tak Beraturan)

Serangan jantung terjadi ketika jantung tiba-tiba berhenti memompa darah ke seluruh tubuh, sementara syok kardiogenik adalah ketika jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Kedua kondisi ini sering disebabkan oleh serangan jantung yang parah, tetapi tidak semua orang yang mengalami serangan jantung mengalami henti jantung atau syok kardiogenik.

"Tidak ada alasan fisik mengapa serangan jantung, bahkan yang paling parah lebih mematikan di musim dingin daripada di musim panas," tukas pemimpin penelitian Arvin Krishnamurthy yang menyarankan penelitian lebih lanjut.

Ia melanjutkan, penjelasan dari hal tersebut bisa mencakup waktu yang lebih lama untuk pengobatan, rawat inap yang lama dan penundaan untuk keluar dari unit pengobatan, serta peningkatan prevalensi infeksi terkait musim dingin yang dapat meningkatkan risiko kematian. 

"Anda jelas tidak dapat memilih ketika Anda mengalami serangan jantung besar, tetapi seharusnya tetap ada peluang Anda untuk bertahan hidup," tambah peneliti lain Metin Avkiran.






(TIN)