Faktor perilaku dan faktor lingkungan adalah dua faktor yang paling sulit untuk berhenti merokok. (Foto: Pexels.com)
Faktor perilaku dan faktor lingkungan adalah dua faktor yang paling sulit untuk berhenti merokok. (Foto: Pexels.com)

Ketua PDPI: Ada 4 Faktor Pengaruhi Berhenti Merokok

Rona kesehatan tips berhenti merokok
Sunnaholomi Halakrispen • 27 Januari 2020 12:00
Jakarta: Merokok berisiko menyebabkan penyakit jantung, kanker, hingga gangguan kehamilan. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, selaku Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menyatakan ada empat faktor pengaruh berhenti merokok.
 
Meskipun, orang yang terlanjur merokok dan telah merasa kecanduan, akan sangat sulit untuk berhenti merokok. Lantaran, telah menjadi kebiasaan yang sulit diubah.
 
"Ada empat faktor untuk berhenti merokok, yaitu adiksi, putus nikotin, perilaku, dan lingkungan," ujar Dr. Agus di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia memaparkan bahwa terdapat dua faktor yang paling sulit dibandingkan dua faktor lainnya. Di antaranya, faktor perilaku dan faktor lingkungan.
 
Sebab, obat-obatan tidak bisa menjangkau dua faktor itu. Justru, hal yang bisa membantu faktor perilaku dan lingkungan harus dibantu dari keluarga sebagai orang terdekat si pecandu rokok.
 
Sedangkan, terkait faktor adiksi dan putus nikotin sangat bisa ditangani dengan obat-obatan yang diberikan dokter spesialis. Dr. Agus menjelaskan adanya kesempatan para pecandu rokok untuk berhenti merokok dengan menjalani program khusus.
 
"Ada program khusus untuk berhenti merokok. Dijalankan selama tiga bulan. Dokter yang berkompeten dalam program ini akan memberikan konsultasi kepada pasien dan juga obat-obatan yang harus dikomsumsi pasien," paparnya.
 
Dr. Agus menerangkan pemerintah telah memberikan imbauan terkait sangat berbahayanya merokok dan ada program khusus agar bisa berhenti merokok.
 
Ketua PDPI: Ada 4 Faktor Pengaruhi Berhenti Merokok
("Ada empat faktor untuk berhenti merokok, yaitu adiksi, putus nikotin, perilaku, dan lingkungan," ujar Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, selaku Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Foto: Pexels.com)
 
Ia mengaku bahwa program yang dijelaskannya tersebut kerap kali berhasil, rata-rata 50 persen. Bahkan, kata Dr. Agus, program khusus berhenti merokok juga diterapkan sejumlah negara lain.
 
"Untuk biaya, sekali kunjungan tergantung masing-masing rumah sakit. Kalau untuk obatnya saja sekitar Rp200 ribu-an, minimal lima kali bertemu dokter untuk berkonsultasi," jelasnya.
 
Ketika merokok, kondisi paru-paru mengalami kerusakan yang bahkan mustahil dikembalikan seperti semula.
 
Namun, apabila sudah berhenti merokok, paling tidak Anda butuh waktu 10 tahun untuk mengeluarkan semua racun yang telah berkumpul di dalam tubuh Anda.
 
"Racun dari rokok akan keluar sendiri, tetapi yang sudah menempel di paru-paru tidak bisa hilang begitu saja. Tapi dengan program (berhenti merokok) bisa dipulihkan kembali," ucapnya.
 
"Rumah Sakit Persahabatan hampir setiap hari ada program ini, kami siap membantu. Seluruh Jawa hampir semua dokter paru sudah punya kemampuan dalam menjalankan program ini," tambahnya.
 
Sementara itu, alih-alih menghindari efek buruk dari rokok konvensional, banyak orang yang mengaku bahwa rokok elektrik atau rokok elektronik dinilai lebih baik.
 
Namun, World Health Organization (WHO) tidak merekomendasikan rokok elektrik tersebut, sebab bahayanya bahkan lebih berisiko bagi kesehatan manusia.
 
Begi orang-orang yang tidak merokok dan menghirup asap rokok elektronik orang lain atau yang disebut dengan perokok pasif, tetap risikonya tidak jauh berbeda dari menghirup asap rokok konvensional.
 
Di dalam tubuh perokok pasif terkumpul zat-zat dari rokok elektrik, meskipun aroma asapnya lebih sedap dibanding rokok konvensional.
 
"Menggunakan rokok konvensional dan elektrik akan jauh lebih berbahaya bagi kesehatan dan risikonya lebih meningkat, dua sampai tiga kali lipat karena kandungan nikotin di rokok konvensional dan eletronik," pungkasnya. 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif