Sebuah studi menunjukkan bahwa senyuman dengan makna dominasi berhubungan dengan reaksi fisik karena adanya 'lonjakan pada tekanan hormon' saat melihat target.
Di sisi lain, senyuman bisa berarti penghargaan, yang muncul secara fisik untuk menyangga stres yang dialami, dalam hal ini dianggap sebagai ekspresi yang menguatkan.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Para peneliti menyimpulkan tiga tipe senyum yaitu dominasi, untuk menyampaikan status; afiliasi, untuk mengkomunikasikan ikatan dan menunjukkan bahwa orang lain bukan ancaman; serta penghargaan yang biasanya ditunjukkan untuk membuat lawan bicara tahu bahwa mereka membuat Anda senang.
(Baca juga: Cara Mudah Menghilangkan Stres dalam 15 Menit)
"Hasil penelitian kami menemukan bahwa perbedaan yang tak mudah terlihat saat Anda menunjukkan ekspresi saat mereka berbicara, dapat mengubah pengalaman, bahasa tubuh, dan mereka merasa Anda sedang mengevaluasi mereka," ujar pemimpin studi Jared Martin dari University of Wisconsin Madison, Amerika Serikat.

(Sebuah studi menunjukkan bahwa senyuman dengan makna dominasi berhubungan dengan reaksi fisik karena adanya 'lonjakan pada tekanan hormon' saat melihat target. Foto: Mari Lezhava/Unsplash.com)
Studi yang dipublikasi dalam jurnal Scientific Reports tersebut meneliti para mahasiswa dengan memberikan mereka beberapa seri dari tugas berpidato yang dinilai melalui kamera web oleh murid lain.
Detak jantung dan tingkat kortisol, hormon yang berhubungan dengan stres, diukur saat penelitian berlangsung.
"Jika mereka mendapat senyum dominasi, yang diinterpretasikan sebagai negatif dan kritik, mereka merasa lebih stres, tingkat kortisol naik, dan hal itu bertahan lebih lama setengah selesai berpidato," ujar asisten peneliti Paula Niedenthal.
Namun, jika mereka menerima senyum penghargaan, mereka melihatnya sebagai persetujuan dan membuat mereka tak stres atau mengalami kenaikan tingkat hormon kortisol.
Partisipan yang memiliki tingkat detak jantung bervariasi cenderung menunjukkan reaksi psikologis yang lebih kuat, yang bersifat bawaan dan tak bisa diubah.
Meski demikian, penyakit tertentu seperti obesitas, penyakit kardiovaskular, kecemasan, dan depresi juga bisa memicu variasi detak jantung, sehingga akan sulit untuk menyadari reaksi pada sinyal sosial sebagai senyum dominasi atau penghargaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
