Tidak perlu langsung ke tenaga ahli kala Anda stres. Anda bisa mengidentifikasinya dengan berefleksi pada apa yang Anda alami. (Foto: Pexels.com)
Tidak perlu langsung ke tenaga ahli kala Anda stres. Anda bisa mengidentifikasinya dengan berefleksi pada apa yang Anda alami. (Foto: Pexels.com)

Generasi Milenial Paling Banyak Stres, Bagaimana Mengatasinya?

Rona psikologi
Kumara Anggita • 24 April 2019 19:02
Berdasarkan definisi World health Organization (WHO), orang yang memiliki jiwa yang sehat memiliki ciri-ciri antara lain merasa sehat dan bahagia. Generasi milenial harus bisa mengontrol pikiran. Ubahlah pikiran negatif menjadi pikiran yang rasional untuk mengurangi situasi stres itu.
 

 
Jakarta:
Sekarang ini seseorang mudah sekali terkena stres. Bukan hanya dalam kehidupan riil (kantor, rumah, sekolah, kampus, dan sebagainya), di media sosial pun seseorang bisa terkena stres juga, khususnya generasi milenial yang berumur 23 tahunan ke atas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengingat stres dapat memengaruhi fungsi kehidupan sehari-hari, Anda sebaiknya mengenali apa itu stres dan mencari cara untuk mengatasinya sesegera mungkin.
 
Tidak perlu langsung ke tenaga ahli. Anda bisa mengidentifikasinya dengan berefleksi pada apa yang Anda alami akhir-akhir ini.
 
Menurut Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, dr. Fransiska M Kaligis, SpKJ (K) dalam acara Hospitalk UI 2019 - Millenials Mental & Nutrition Management, di Auditorium Rumpun Ilmu Kesehatan UI, Depok mengatakan berdasarkan definisi World health Organization (WHO), orang yang memiliki jiwa yang sehat memiliki ciri-ciri antara lain merasa sehat dan bahagia.
 
Selain itu ciri lain orang yang memiliki jiwa yang sehat juga mampu menghadapi tantangan hidup, mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
 
“Kita menghadapi tantangan hidup dengan senang ketika jiwanya sehat,” tuturnya. Sayangnya, generasi milenial yang sedang produktif ini banyak yang memiliki ciri-ciri yang berkebalikan dari definisi itu.
 
Teknologi yang maju dan semua hal serba cepat dan instan juga memberikan dampak negatif bagi kehidupan generasi milenial di aspek kejiwaan seperti depresi, bunuh diri, stres, kesepian.
 
“Dengan karakteristik ini adalah generasi yang paling mudah stres. Ada studi di Amerika yang menyatakan generasi ini mudah stres. Angka depresi di kalangan ini meningkat. Angka loneliness juga tinggi sekali,” tuturnya.
 
"Angka kunjungan poliklinik ke kesehatan jiwa lebih banyak,” lanjutnya.
 
(Baca juga: Pentingnya Kebiasaan Spiritual Saving bagi Generasi Milenial)
 
Generasi Milenial Paling Banyak Stres, Bagaimana Mengatasinya?
(Generasi milenial juga harus bisa mengontrol pikiran. Ubahlah pikiran negatif menjadi pikiran yang rasional untuk mengurangi situasi stres. Foto: Pexels.com)

Berasal dari berbagai faktor

Masalah ini terjadi pada generasi milenial karena berbagai faktor seperti lingkungan keluarga, pertemanan, tugas yang banyak, pikiran yang banyak. Secara lebih spesifik stres ini juga terjadi karena tiga faktor yaitu biologis, psikologis, dan sosial.
 
Faktor biologis yang membuat generasi milenial mudah stres berkaitan dengan komponen otak yang bertanggung jawab dalam mengatur gerakan, penilaian, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, spontanitas dan perencanaan (kontrol impuls), memori, bahasa, hingga perilaku sosial dan seksual. Bagian tersebut disebut dengan lobus frontal.
 
“Umur 20 tahun kemampuan otaknya belum maksimal. Belum sampai dewasa sekali. Area frontal di problem solving,” tuturnya.
 
Sementara, secara psikologis generasi milenial yang range umurnya 20 tahunan kepribadiannya belum berkembang sempurna. Karena itu, generasi ini jadi lebih mudah mengalami stres saat menghadapi masalah.
 
“Faktor psikologis yang belum matang pun membuat kaum milenial mudah stres. kepribadiannya juga belum mature. Ini belum berkembang,” tuturnya.
 
Faktor sosial juga mengambil peran besar. Saat ini tekanan kehidupan dalam berbagai aspek semakin besar. Mereka mau tak mau harus menghadapinya.
 
“Sekarang tekanan lebih banyak, kompetisi lebih banyak, ekspetasi yang besar,” tuturnya.
 
Karena itu menurutnya, generasi milenial tidak boleh tenggelam pada tantangan-tantangan ini. Generasi milenial dapat mengatasinya dengan memanajemen stres dengan menjalankan hobi, bermain, mendengarkan musik, meningkatkan komunikasi, dan tidur yang cukup.
 
“Konsumsi makanan sehat dengan cara hindari binge eating (disorder adalah sindrom penyimpangan perilaku makan). Olahraga 30 menit sehari sebanyak tiga sampai empat kali seminggu. Terapi dan relaksasi dengan yoga dan meditasi,” tuturnya.
 
Generasi milenial juga harus bisa mengontrol pikiran. Ubahlah pikiran negatif menjadi pikiran yang rasional untuk mengurangi situasi stres itu.
 
“Ubah sikap dan cara berpikir misalnya ketika tugas saya banyak sekali, pikiran ‘saya tidak dapat melakukan apapun dengan benar’ diubah menjadi ‘Saya perlu menentukan tugas mana yang akan saya selesaikan, agar berhasil menyelesaikan tugas’,” tuturnya.
 
Dengan melakukan perubahan dalam pola pikir dan gaya hidup seperti yang disebutkan dokter Fransiska menjadi kebiasaan, mudah-mudahan stres Anda bisa teratasi dan tidak menjadi gangguan dalam menjalani hari-hari.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif