Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto akan melanjutkan program kesehatan dari Menkes periode sebelumnya. (Foto: Dok. MI/Susanto)
Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto akan melanjutkan program kesehatan dari Menkes periode sebelumnya. (Foto: Dok. MI/Susanto)

Menkes Terawan akan Lanjutkan Program Nila Moeloek

Rona menkes
Sunnaholomi Halakrispen • 28 Oktober 2019 08:15
Jakarta: Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto akan melanjutkan program kesehatan dari Menkes periode sebelumnya, Nila F. Moeloek. Menurutnya, program kesehatan era dr. Nila sangat mendasar dan dibutuhkan masyarakat.
 
“Saya haturkan penghargaan setinggi-tingginya atas kerja keras pembangunan kesehatan. Saya melihat Ibu (Nila) menunjukkan berbagai program kesehatan mendasar seperti Germas, PISPK, dan yang luar biasa adalah Nusantara Sehat (NS),” ujar Menkes Terawan di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan.
 
Letjen TNI (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) mengakui program kesehatan di bawah kepemimpinan Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, Sp.M(K) terbukti dijalankan dengan sempurna. Begitu pula isu strategis kesehatan lainnya, seperti angka kematian ibu dan bayi, stunting, imunisasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian juga isu penyakit tidak menular, pembangunan fasilitas layanan kesehatan, dan SDM di daerah terpencil. Semua program tersebut menjadi bagian dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
 
“NS (Nusantara Sehat) patut diacungi jempol yang menjadi solusi distribusi SDM. Kami tinggal meneruskan,” tuturnya.
 
Mantan Kepala RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) itu menambahkan, ada arahan Presiden terkait beberapa isu kesehatan yang harus diselesaikan. Di antaranya, persoalan stunting dan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).
 
Masalah kesehatan lainnya, kata Terawan, ialah harga obat yang masih tinggi. Kemudian, kurangnya penggunaan alat kesehatan dalam negeri. Persoalan-persoalan tersebut akan menjadi fokus perhatian kita bersama yang akan diupayakan solusinya. 
 
"Untuk itu saya berharap bisa bekerja sama menciptakan inovasi dalam mengupayakan kesehatan. Sementara yang sudah dirintis (program kesehatan) sebelumnya akan dilanjutkan dan ditingkatkan,” paparnya.
 
Hal tersebut selaras dengan permintaan Nila di akhir masa jabatannya sebagai Menkes kala itu. Nila meminta agar Terawan menyempurnakan pembangunan kesehatan di Indonesia.
 
“Pak Menteri, masih banyak penyempurnaan langkah (pembangunan kesehatan) yang harus disempurnakan lagi. Tolong lanjutkan estafet pembangunan kesehatan ini menuju SDM unggul,” ungkap Nila.
 
Sementara itu, dalam lima tahun masa kepemimpinan dr. Nila, telah banyak pencapaian program kesehatan. Tentunya, tidak mudah atau sarat akan tantangan.
 
Salah satunya, program Nusantara Sehat misalnya. Meskipun terjadi pemerataan tenaga kesehatan di Puskesmas, mereka menghadapai berbagai tantangan mulai dari sulitnya medan, keterbatasan fasilitas, dan pengaruh cuaca.
 
Hingga saat ini Kemenkes telah mengirimkan 10.530 peserta Nusantara Sehat (NS) individu di 30 provinsi.
 
“Keberadaan NS memberikan banyak sekali bantuan kesehatan yang dibuktikan dari analisa data Litbangkes di mana daerah yang diintervensi NS ada perubahan perilaku mengarah ke pola hidup sehat,” paparnya.
 
Selain itu, melaui program pendayagunaan dokter spesialis, Kemenkes mengirimkan dokter spesialis ke daerah. Nila menegaskan bahwa pemerataan tenaga kesehatan ini harus menjadi pemikiran kita bersama dan tidak mudah.
 
Jumlah lulusan kedokteran saat ini hampir 15 ribu dari 86 fakultas kedokteran dan dengan jumlah tersebut sebenarnya pemerataan tenaga dokter bisa dicapai. Nila pun berharap selanjutnya lulusan kedokteran sudi bertugas di daerah.
 
Pemerataan tenaga kesehatan harus diimbangi dengan pemerataan fasilitas layanan kesehatan. Kemenkes telah membangun 629 Puskesmas baru dan 62 rumah sakit prtama.
 
Melalui pembangunan Puskesmas itu, Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK) dapat dilakukan dengan baik. Pendataan kondisi kesehatan masyarakat bisa lebih menyasar masyarakat yang lebih luas.
 
“PISPK telah dievaluasi, ternyata di beberapa kabupaten/kota yang pendataannya lebih dari 50 persen telah terjadi peningkatan masyarakat yang sehat dan masyarakat sakit menurun,” akunya.
 
Capaian lainnya, penurunan stunting sekitar tiga persen dibanding tahun sebelumnya. Hasil dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSBGI) tahun 2019, menunjukkan telah terjadi penurunan prevalensi stunting dari 30,8 persen tahun 2018 (Riskesdas 2018) menjadi 27,67 persen tahun 2019.
 
Nila mengatakan persoalan stunting harus dilakukan dengan kerja holistik. Ujungnya adalah bagaimana mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih sehat.
 
“Jika ini dapat diatasi, harus turun sampai 19 persen di 2024. Kita harus melihat siklus kehidupan, karena itu kita harus bekerja keras,” pungkas Nila.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif