"Ini sudah terjadi yang kedua kalinya, dalam jangka waktu lima bulan sejak Oktober tahun lalu. Saya kira hanya sekedar pilek atau radang biasa saja," ujar Herwanto Kurniawan, ayah dari Nicho. "Saya sedikit bingung karena gejalanya mirip-mirip dengan DBD atau gejala tifus. Makanya segera saya bawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Hasilnya leukositnya tinggi yaitu 16.000," tambahnya lagi.
Penyakit yang sama juga dialami oleh Anhaf Aufar Ridhwan (1 tahun 1 bulan). Sudah dua kali dalam kurun waktu hanya delapan hari, anak lelaki berkulit putih ini kembali dirawat di RS Grha Permata Ibu, Depok, Jawa Barat. "Iya, ini sudah yang kedua kalinya masuk setelah minggu lalu hari Kamis, tanggal 16 Maret dirawat. Sekarang masuk lagi Rabu, tanggal 22 Maret," papar Tuti Hartiningsih, ibunda dari Aufar.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Empat bulan yang lalu, Aufar juga terkena leukosit yang jumlahnya cukup tinggi sebanyak 20.500. Ini membuatnya mual, muntah, diare, serta panas yang naik turun yang terjadi setiap empat jam sekali.
"Yang membingungkan adalah, Aufar itu masih ASI, dan makannya sehat karena saya bikin nasi tim sendiri, namun kenapa malah bisa kena. Ini terkena lagi setelah 4 bulan yang lalu juga kena leukosit tinggi untuk yang pertama kali," papar Tuti.

Mengenal leukosit
Dalam Wikipedia disebutkan, sel darah putih, leukosit (bahasa Inggris: white blood cell, WBC, leukocyte) adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.
Dalam Reference.com disebutkan bahwa banyak orang yang mengira meningkatnya sel darah putih untuk membunuh infeksi adalah baik. Ini tidak sepenuhnya benar. Sel darah putih yang meningkat mengindikasikan bahwa ada masalah lain, seperti infeksi, stres, inflamasi, trauma, alergi, atau penyakit lainnya.
Faktor penyebab leukosit
"Leukosit bisa dialami si kecil karena beberapa faktor, misalnya sistem imun yang lemah sehingga mudah terinfeksi atau lingkungan sekitar yang tergolong jorok, dua penyebab umum," ujar dokter spesialis anak Dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A (K) dalam acara bincang Nutricia: 7 Kehebatan Perut, Kamis (23/3/2017).
"Sementara, menyebarnya leukosit sendiri bisa berasal dari mana pun, seperti udara (dimana menghirup udara di sekitar penderita), makanan, atau kontaminasi sentuhan (misalnya penderita yang terkena diare tak membersihkan tangan dengan benar dan langsung menyentuh bayi)," tambahnya lagi.
Dr. Badriul Hegar mengatakan untuk bayi, alasan mengapa penyakit ini bisa menghinggapi mereka adalah karena pembentukan sistem imun dalam tubuh bayi belum sempurna.
(Baca juga: Tiga Gangguan Cerna yang Kerap Dialami Si Kecil)
Pertanda infeksi dalam tubuhSeperti yang dikatakan sebelumnya, beberapa gejala pada anak seperti demam, muntah, dan diare adalah pertanda yang sering diartikan sebagai infeksi dalam tubuh.
"Namun, perlu pemeriksaan yang tepat untuk memastikannya," tegas Dr. Badriul Hegar.
Ia menjelaskan segala jenis infeksi baiknya diperiksa dengan metode kultur dimana tubuh diperiksa apakah ada kuman atau tidak, dan dilihat juga apakah kuman patogen atau bukan.
Namun karena metode tersebut dinilai kurang ringkas, maka dilakukan metode yang lebih mudah yaitu dengan melakukan pemeriksaan feses lengkap untuk melihat jumlah leukosit di dalamnya.
"Jika jumlah leukosit di atas 10 per lapangan pandang besar, maka itu berarti anak terkena infeksi oleh bakteri patogen," tandas Dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A (K).
Dr. Badriul Hegar menerangkan normalnya, jumlah leukosit berkisar antara 5-10 per pandang besar, dimana jika berada di bawah 5 tak ada yang perlu dicemaskan. Namun, bila di atas 10 maka perlu penanganan lanjut dari ahli medis.
"Layaknya penyakit pencernaan, infeksi leukosit bisa dialami secara berulang dengan penyebab yang sama. Namun, seiring dengan bertambahnya usia dimana sistem kekebalan juga semakin matang untuk si kecil, maka seharusnya risiko terkena gangguan tersebut akan semakin kecil," pungkas Dr. Badriul Hegar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
