Ilustrasi--Pexels
Ilustrasi--Pexels

Lonjakan Kematian Lumba-Lumba Hidung Botol Dianggap Tak Lazim

Rona satwa
Dhaifurrakhman Abas • 03 Juli 2019 12:13
Tahun ini hampir 300 mamalia hanyut di sepanjang pantai-pantai di Gulf Coast, Pantai Teluk Amerika Serikat. Dugaannya, hujan, salju masih mengandung tumpahan Deepwater Horizon. Sehingga tumpahan salju ke laut menjadi penyebab kematian paling potensial.
 

Jakarta: Spesies lumba-lumba hidung botol mati tiga kali lebih banyak dari biasanya. Tahun ini saja, terdapat hampir 300 mamalia hanyut di sepanjang pantai-pantai di Gulf Coast, Pantai Teluk Amerika Serikat.
 
Lonjakan kematian yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat para ilmuwan kebingungan. Meskipun beberapa peneliti memaparkan teori-teori yang mendukung kematian hewan dengan nama ilmiah Tursiops truncatus itu.
 
Lonjakan paling besar terlihat sejak Februari lalu. Ada sekitar 282 lumba-lumba hidung botol ditemukan mati di empat negara bagian AS, Mississippi Louisiana, Florida dan Alabama. Kondisi bangkai lumba-lumba yang ditemukan pun terlihat berbeda dari biasanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini merupakan kematian yang tidak biasa," kata Erin Fougeres, seorang Ilmuwan Mamalia Laut dari the National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mengutip Time.
 
Fougeres menyebut, NOAA telah menyatakan fenomena itu sebagai 'Unusual Mortality Event' (UME). Kematian tak lazim itu pernah terjadi di area tersebut dalam perkara tumpahan minyak Deepwater Horizon pada 2010 lalu (deklarasi terjadi pada Juli 2014).
 
Masih berhubungan dengan perkara tumpahan minyak, NOAA menduga hujan dan salju di Selatan musim dingin ini menjadi ihwal kematian lumba-lumba hidung botol. Dugaannya, hujan salju masih mengandung tumpahan Deepwater Horizon. Sehingga tumpahan salju ke laut menjadi penyebab kematian paling potensial.
 
"Apalagi kita tahu bahwa ini adalah musim dingin terbasah di lembah Mississippi dalam 124 tahun," ujar Fougeres.
 
Tanpa efek Deep Water Horizon pun, hujan lebat yang terjadi dalam tempo yang lama sudah bisa menurunkan kadar garam di Teluk. Menurut Fougeres, ini menjadi masalah bagi keberlangsungan hidup lumba-lumba yang merupakan hewan air asin.
 
"Walaupun hanya sekitar seperempat dari lumba-lumba yang mati di sana memiliki lesi pada kulit. Yang menandakan ada paparan air tawar di tubuh hewan yang hidup di air asin itu," katanya.
 
Fougeres juga mempertimbangkan faktor lingkungan lain yang mungkin berkontribusi pada tingginya angka kematian lumba-lumba. Khususnya pada kasus yang ditemukan di Teluk Meksiko.
 
NOAA menduga, kematian di sana terjadi karena wilayah itu masuk kategori zona hipoksia. Ini merupakan keadaan di mana terjadi defisiensi oksigen yang mengakibatkan kerusakan sel akibat penurunan resirasi oksidatif. Tergantung pada beratnya hipoksia, sel dapat mengalami adaptasi, cedera atau mengalami kematian.
 
Akan tetapi, NOAA memperkirakan hipoksia yang terjadi di Teluk Meksiko masuk dalam kategori berat. Pasalnya, lokasi ini merupakan wilayah pertanian dan aktivitas manusia yang seringkali mencemari badan air dan menurunkan kadar oksigen. Bahkan para ilmuwan menjuluki wilayah ini sebagai 'zona mati' bagi kehidupan laut. "NOAA percaya zona mati Teluk tahun ini adalah 7.829 mil persegi," ungkap dia.
 
Meskipun Fougeres tidak tahu apakah "zona mati" ini secara langsung memengaruhi lumba-lumba. Namun ia berpendapat zona mati kemungkinan memengaruhi ketersediaan pasokan makanan lumba-lumba hidung botol.
 
"Bentangan Teluk ini juga merupakan daerah yang paling terkena dampak langsung oleh tumpahan Horizon Deepwater. Pada saat itu, empat juta barel minyak mencemari Teluk selama lebih dari 87 hari," tandas Fougeres.
 

 
 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif