Terlebih jika seseorang sering kali berbicara dengan blak-blakan atau spontan tentang sesuatu yang dianggap salah oleh orang lain. Sementara orang itu tidak menyampaikan permintaan maaf secara cepat.
Permintaan maaf atas kesalahan yang dilakukan, merupakan keputusan yang tidak mudah. Namun secara psikologi, penyampaian maaf tidak sesederhana yang dibayangkan, dalam memperbaiki kesalahan orang di mata publik.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Hal tersebut berkaitan dengan mental yang dimiliki orang tersebut. Menurut Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Efnie Indrianie, M.Psi memaparkan, "Sebenarnya meminta maaf yang menunjukkan kualitas pribadi dewasa yang baik adalah apabila yang disertai dengan kesadaran dan melakukan refleksi diri," ujar Efnie Indrianie kepada Medcom.id.
"Jika tidak, maka yang dilakukan hanya sebagai bentuk kekhawatiran ditolak oleh lingkungan sosial semata," tambahnya.
Efnie memaparkan bahwa permintaan maaf yang disampaikan bisa saja hanya sebagai formalitas. Tidak dari hati alias hanya untuk memenuhi tuntutan dari persepsi publik tentang orang tersebut.
"Secara psikologis, orang akan berubah apabila peristiwa yang terjadi ini dimaknai dan disertai dengan proses refleksi diri. Sehingga bisa menjadi titik balik. Jika tidak maka hal yang dilakukan akan lebih bersifat defense (pertahanan diri) saja," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
