Jakarta: Kurangnya gravitasi yang dialami selama penerbangan luar angkasa berdampak pada kondisi tubuh astronot saat kembali ke bumi. Gaya gravitasi yang berbeda sering menyebabkan astronot pingsan saat kembali ke bumi.
Meski begitu, sebuah studi baru yang diterbitkan Jumat di Circulation, jurnal American Heart Association, menemukan solusi untuk menghindari hal tersebut. Hal itu dengan memerhatikan kondisi detak jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh astronot sebelum dan sesudah menjalankan misi luar angkasa.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
“Ahli bedah memerhatikan, sangat sedikit perubahan ketika mereka memantau detak jantung, tekanan darah dan suhu tubuh astronot. Tapi yang berubah adalah ketika mereka kembali ke Bumi," kata Bill Carpentier, ahli bedah penerbangan Apollo 11.
Menurut Carpentier, detak jantung meningkat pasca penerbangan. Sementara tekanan darah menjadi lebih rendah. Hal itu terlihat dari penerbangan Mercury terakhir yang berlangsung selama 34 jam.
“Ketika Gordon Cooper keluar dari pesawat ruang angkasa dan berdiri, detak jantungnya sangat tinggi, 170 hingga 180. Dan tekanan darahnya turun, dia merasa seperti akan pingsan. Tapi begitu dia mulai bergerak, segalanya menjadi lebih baik dan dia bisa berjalan melintasi geladak," ujarnya.
Carpentier mengatakan kondisi tersebut bisa menjadi progresif ketika misi luar angkasa dilakukan dengan rentang waktu yang lebih lama. Misalnya saja dalam program Apollo yang bisa bertahan hingga 14 hari.
Hal ini, kata dia, menyebabkan hipotensi ortostatik. Ini merupakan kondisi ketika darah mengalir ke kaki dan menjauh dari otak. Menurutnya, kondisi ini seperti ketika seseorang berdiri setelah duduk atau berbaring dalam waktu yang lama. Sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah sementara, yang dapat menyebabkan pusing atau pingsan.
"Salah satu masalah terbesar sejak dimulainya program luar angkasa berawak adalah bahwa astronot pingsan ketika mereka turun ke Bumi. Semakin lama waktu di ruang lingkungan bebas gravitasi, semakin besar risikonya muncul," ujarnya.
Hal senada diungkapkan Dr. Benjamin Levine, penulis studi senior dan seorang profesor Ilmu Penyakit Dalam di UT Southwestern Medical Center. Dia bilang, masalah ini telah lama menjadi perhatian dalam program luar angkasa.
“Meskipun kondisi ini adalah sesuatu yang biasa dialami orang biasa juga (bukan astronot)," ujar Levine.
Untuk itu, tim penelitian melakukan sebuah studi untuk menemukan solusi tersebut. Mereka melibatkan 12 astronot yang terdiri dari delapan pria dan empat perempuan berusia antara 43 dan 56 tahun.
Mereka merupakan astronot yang menghabiskan enam bulan luar angkasa di dalam Stasiun Luar Angkasa Internasional antara 2009 dan 2013. Seperti praktik standar astronot stasiun luar angkasa, mereka diminta berolahraga selama dua jam setiap hari dari misi mereka.
Pelatihan tersebut berupa latihan dalam ketahanan dan perlawanan. Astronot di stasiun secara teratur berolahraga untuk mencegah hilangnya massa tulang dan otot, termasuk kehilangan otot kardiovaskular.
“Penanggulangan latihan ini berkembang seiring waktu. Dan setelah kembali ke Bumi, para astronot menerima cairan saline IV,” ungkap Levine.
Menurutnya, ruang angkasa menyebabkan hilangnya volume plasma akibat proses masuk kembali. Sementara olahraga yang dilakukan merupakan keharusan lantaran mampu menjaga ukuran dan fungsi jantung tetap utuh. Selain itu cairan mengisinya sebagai persiapan untuk gravitasi Bumi.
“Lalu, sebelum, selama dan setelah misi mereka, detak jantung dan tekanan darah para astronot dicatat selama 24 jam,” ujarnya.
Hasilnya, tekanan darah astronot tercatat berkurang sedikit ketika mendarat kembali ke bumi. Selain itu tidak ada astronot yang pingsan atau mengalami pusing setelah mendarat dan melakukan aktivitas selama 24 jam.
Levine mengatakan, ini merupakan studi pertama yang menunjukkan bahwa astronot tidak mengalami gejala-gejala tersebut setelah mendarat. Asalkan, kata dia, pasa astronot berolahraga dalam penerbangan dan menerima infus saline ketika mereka kembali ke bumi.
"Yang paling mengejutkan saya adalah seberapa baik yang dilakukan para astronot setelah menghabiskan enam bulan di luar angkasa. Saya pikir akan ada episode pingsan yang sering terjadi ketika mereka kembali ke Bumi, tetapi ternyata tidak. Ini bukti kuat tentang efektivitas penanggulangan - rejimen latihan dan pengisian cairan,” tandas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(FIR)
