Foto: www.enciety.com
Foto: www.enciety.com

Kaleidoskop

3 Penyakit Paling Menghebohkan Pada 2014

Rona kesehatan
Nia Deviyana • 30 Desember 2014 10:19
medcom.id, Jakarta: Kemunculan penyakit, apalagi yang menular, selalu menghebohkan dan menakutkan. Pasalnya, penyakit jenis ini bisa datang kapan saja dan tak terduga sebelumnya. Akibat yang ditanggung penderita juga bisa berakhir fatal.
 
Sepanjang 2014 ini ada tiga penyakit yang cukup menghebohkan. Dari mulai langka, belum ditemukan obatnya, hingga mampu mengakibatkan terganggunya jiwa seseorang.
 
Penyakit apa sajakah yang paling menghebohkan sepanjang 2014 ini?

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


1. MERS-CoV
Middle East Respiratory Sindrome Coronavirus (MERS-CoV) merupakan penyakit pernapasan yang menghebohkan Indonesia pada April 2014. Pasalnya, virus ini dapat mengakibatkan gangguan pernapasan ringan hingga berat dan berakibat fatal.
 
Virus ini, pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada September 2012. Kala itu, ditemukan enam orang dengan gejala gagal pernapasan. Dua orang diantaranya meninggal. Dari orang yang meninggal tersebut, ditemukan virus yang mula-mula disebut novel coronavirus.
 
Kasus serupa di Arab Saudi terus meningkat jumlahnya hingga 44 kasus, dan 22 diantaranya dinyatakan meninggal. Karena diduga berasal dari Arab Saudi, penyakit ini juga disebut sebagai Sindrome Pernapasan Timur Tengah.
 
Pada awal 2013, virus ini menyebar ke Eropa, antara lain ke Inggris, Perancis, Jerman dan Italia. Mengingat penyakit ini bisa menyerang berbagai negara, WHO pun mengumumkan untuk mewaspadai virus ini.
 
MERS-CoV kemudian menjadi perhatian serius di Indonesia karena banyaknya jumlah WNI yang bepergian ke Timur Tengah, baik untuk bekerja, belajar hingga umroh dan haji. Bersyukur, hingga detik ini di Indonesia belum ditemukan kasusnya, meski pada 2014 ada penderita gangguan pernapasan yang masuk rumah sakit sepulang melakukan ibadah umroh. Namun, hasil membuktikan pasien WNI tersebut negatif MERS-CoV.
 
Sebenarnya, MERS-CoV memiliki kesamaan dengan SARS, yakni sama-sama berasal dari genus coronavirus. Namun, MERS-CoV menyebar lebih lambat daripada SARS, tetapi resiko kematiannya jauh lebih besar.
 
2. Ebola
Di pertengahan 2014, tepatnya mulai Juni hingga sekarang, pembicaraan mengenai penyakit Ebola seolah tiada habisnya. Virus Ebola digambarkan sebagai virus demam berdarah ebola (Ebola Haemmorhagic Fever), yakni jenis virus yang bisa menyebabkan kematian.
 
Dengan masa inkubasi sekitar 8-21 hari, penderita yang terjangkit Ebola biasanya akan merasakan gejala awal berupa demam, kelemahan otot, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Lebih lanjut, virus ini dapat mengganggu fungsi ginjal dan hati, serta menyebabkan pendarahan di dalam maupun di luar tubuh.
 
Virus Ebola ditularkan melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh manusia seperti air liur, lendir, sperma, dan jaringan tubuh orang yang terinfeksi. Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui binatang yang rawan terinfeksi, seperti gorila, simpanse, monyet, dan kelelawar buah.
 
Virus Ebola pertama kali ditemukan di benua Afrika, tepatnya di Provinsi Sudan dan di wilayah terdekat Zaire pada 1976. Ebola memiliki presentasi angka kematian cukup tinggi, yakni 90 persen.
 
Lebih dari 6.900 orang meninggal dunia akibat virus Ebola. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO), hampir semua korban tewas Ebola berada di Afrika Barat. Per 14 Desember lalu, terdapat 18.569 kasus Ebola di tiga negara Afrika Barat, yakni Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Sementara jumlah kematian di ketiga negara tersebut mencapai 6.900.
 
3. Bipolar Disorder
Istilah penyakiy Bipolar disorder semakin dikenal masyarakat setelah artis Marshanda diduga mengidap penyakit ini pada medio Agustus lalu.
 
Bipolar disorder merupakan salah satu gangguan jiwa yang bersifat episodik. Bipolar disorder dipicu oleh ketidakseimbangan cairan kimia (neurotransmitter) di dalam otak. Akibatnya, otak yang berfungsi menyampaikan rangsangan (termasuk perasaan) bisa terganggu kinerjanya.
 
"Itulah kenapa dinamakan bipolar (dua kutub emosi). Suatu waktu bisa saja seseorang happy dan bersemangat, tapi di waktu yang tidak jauh berselang, seketika dia jadi murung," jelas psikolog Sani B. Hermawan kepada Metrotvnews.com, beberapa waktu lalu.
 
Sementara itu, National Institute of Mental Health Amerika Serikat menyebutkan, ada faktor internal maupun eksternal yang bisa memicu penyakit ini.
 
Faktor internal mengacu pada gen. Dalam hal ini, sebuah penelitian menyebutkan, semakin tua umur laki-laki ketika istrinya mengandung, maka semakin tinggi risiko anaknya terkena bipolar. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan mutasi gen yang mengatur perkembangan kelainan syaraf yang menyebabkan kelainan pada DNA.
 
Pada faktor eksternal, gangguan bipolar erat kaitannya dengan kehidupan masa lalu yang pernah dihadapi penderita. Pasien bipolar kemungkinan memiliki riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan, tekanan dari dalam diri maupun luar, atau pernah mengkonsumsi narkoba dan sejenisnya.
 
Lebih lanjut, kelainan ini biasanya dimulai pada awal usia remaja atau pada akhir masa dewasa. Setengah dari semua kasus, dimulai sebelum usia 25 tahun.Ada empat episode emosi yang bisa dirasakan para penderita bipolar disorder, di antaranya:
 
-Mania
Pada episode ini, penderita seolah-olah memiliki rasa bahagia dan semangat yang luar biasa. Tak jarang, penderita pun mengalami kesulitan tidur karena merasa sangat produktif. Lebih ekstrem dari itu, mereka kadang berpikir tak membutuhkan orang lain karena rasa percaya diri yang berlebihan.
 
-Hipomania
Tak jauh berbeda dengan mania. Meski demikan, pada episode hipomania, seorang bipolar akan merasa lebih tenang. Dalam hal ini, episode hipomania-lah yang paling sulit terdeteksi karena gejalanya tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang sedang bahagia, meskipun efeknya bisa sama seperti mania.
 
-Depresi
Berbeda dengan mania dan hipomania, depresi digambarkan sebagai situasi murung yang penuh dengan tekanan. Jika tak tertangani dengan baik, penderita bipolar yang mengalami episode emosi ini bisa terjerumus ke hal-hal negatif, seperti bunuh diri.
 
-Campuran
Pada episode ini, emosi mania dan depresi berkolaborasi menjadi satu. Contoh, ada seseorang yang sangat bersemangat dalam bercerita, namun yang dibicarakan hanya soal kejelekan dan hal-hal yang negatif.
 
Secara sederhana, bipolar dibagi menjadi dua tipe, yakni bipolar disorder I dan bipolar disorder II. Pada bipolar I, penderita banyak ditemukan mengalami episode manic. Sementara pada tipe II, penderita cenderung didominasi emosi pada episode depresi, dan tidak pernah mencapai manic.
 
Dalam perkembangan kasusnya, penelitian Dunner pada Journal Bipolar Disorder (2003) menyebutkan, prevalensi penderita bipolar tipe I cenderung sama pada pria dan wanita. Namun pada bipolar disorder tipe II, prevalensi penderita wanita jauh lebih banyak dibanding pria yakni 2:1.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(AWP)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif