Foto: BRIN
Foto: BRIN

Teknologi Biosensing BRIN Deteksi Penyakit dan Keamanan Pangan

Mohamad Mamduh • 23 Januari 2026 16:27
Jakarta: Teknologi biosensing dinilai berperan strategis dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi analisis di bidang kesehatan. Dengan menggabungkan komponen biologis yang spesifik serta detektor fisikokimia, berbagai penyakit dapat dideteksi secara lebih cepat, akurat, dan mudah.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Elektronika (PRE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ni Luh Wulan Septiani, dalam pemaparannya pada kunjungan ilmiah mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, Rabu (14/1).
 
Wulan menjelaskan bahwa Kelompok Riset Bioelektronika dan Biosensing di lingkungan PRE BRIN memiliki dua fokus utama, yaitu bioelektronika dan biosensor. Riset bioelektronika saat ini dikembangkan oleh periset yang berada di KST BJ Habibie-Serpong, sementara riset biosensing dilaksanakan oleh periset di KST Samaun Samadikun - Bandung.

“Fokus penelitian biosensing adalah mengembangkan device biosensor yang terintegrasi dengan sistem pembacanya, sehingga dapat digunakan secara aplikatif di berbagai bidang, khususnya kesehatan dan pangan,” jelas Wulan.
 
Ia menerangkan bahwa biosensor yang dikembangkan terbagi menjadi dua jenis berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu biosensor optikal dan biosensor elektrokimia. Keduanya bekerja dengan memanfaatkan perubahan sifat optik dan sifat elektronik suatu material ketika berinteraksi dengan target deteksi tertentu.
 
“Prinsip kerja biosensing menggunakan material dan komponen biologis sebagai indikator, di mana perubahan sifat fisis material akibat interaksinya dengan target akan dikonversi menjadi sinyal yang dapat diukur. Sinyal tersebut dapat berupa perubahan warna material pada biosensor optikal maupun perubahan arus listrik pada biosensor elektrokimia,’’ tutur Wulan.
 
Sebagai contoh, perubahan sifat optikal pada material emas (Au) saat digunakan untuk mendeteksi keberadaan senyawa lain, seperti biomarker kanker. Dalam kondisi tertentu, partikel emas akan mengalami perubahan warna dari merah menjadi ungu sebagai indikasi adanya senyawa target. Namun demikian, Wulan menekankan bahwa metode perubahan warna saja belum cukup untuk memberikan informasi yang komprehensif.
 
“Dengan metode tersebut, hasil yang diperoleh baru sebatas menunjukkan keberadaan senyawa, belum mencakup skala atau jumlahnya. Oleh karena itu, BRIN terus mengembangkan metode biosensing agar lebih efektif dan menyeluruh,” ujarnya.
 
Saat ini, PRE BRIN tengah mengembangkan berbagai device biosensor untuk mendeteksi penyakit-penyakit infeksius dan berbahaya, seperti tuberkulosis (TBC), hepatitis, demam berdarah, dan kanker. Pengembangan ini diharapkan dapat mendukung sistem deteksi dini penyakit secara cepat dan akurat.
 
Selain di bidang kesehatan, riset biosensing  juga diarahkan pada pengembangan sensor kualitas pangan. Inovasi ini bertujuan untuk memberikan alternatif solusi bagi pemerintah dalam menjaga kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya bagi siswa sekolah.
 
Tidak hanya itu, Kelompok Riset Bioelektronika dan Biosensing juga mengembangkan inovasi veinn finder, yaitu perangkat yang berfungsi membantu tenaga kesehatan dalam menentukan titik vena optimal saat proses pengambilan darah, sehingga meningkatkan kenyamanan pasien dan efisiensi layanan medis.
 
Melalui kunjungan ilmiah ini, mahasiswa UBSI memperoleh pemahaman langsung mengenai peran strategis BRIN, khususnya Pusat Riset Elektronika, dalam menghadirkan teknologi berbasis biosensing yang berdampak nyata bagi masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya BRIN dalam menumbuhkan minat generasi muda terhadap dunia riset dan inovasi nasional.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan