"Gigi retak dapat terjadi pada siapa saja (pria maupun wanita). Penyebabnya, bisa karena menggigit objek yang keras. Misalnya membuka tutup botol dengan gigi, punya kebiasaan mengunyah es batu, atau mengerat gigi saat tidur," ujar Spesialis Konservasi Gigi, drg. Rina Permatasari, Sp. KG dalam edukasi kesehatan bertema "Mempertahankan Fungsi dan Kesehatan Gigi" di Rumah Sakit Pondok Indah, Selasa (9/12/2014).
Faktor lain, gigi retak terjadi akibat struktur gigi yang lemah, atau salah posisi ketika mengunyah.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ada beberapa gejala yang dirasakan pada kasus gigi retak. Diantaranya, terasa sakit di gigi saat mengunyah, gigi pun menjadi lebih sensitif (terutama jika suhu udara dingin). Pada kasus yang sudah parah, gigi bisa goyah, bahkan terbelah.
Namun, retakan pada gigi biasanya cukup halus dan sulit terlihat oleh mata. Jika hal itu terjadi, maka dokter memerlukan pemeriksaan dengan teknologi 3D Cone Beam Computed Tomography (CBCT).
"Dengan teknologi ini, dokter bisa melihat struktur gigi per potong, mulai dari akar sampai bagian atas. Hasilnya pun lebih akurat karena keretakan pada gigi dapat terlihat dengan detail yang tajam," paparnya.
Penanganannya, lanjut dia, gigi retak yang tidak sampai ke ruang pulpa cukup dilakukan pemasangan mahkota tiruan (crown) di ujung gigi. "Namun, jika retakan ternyata sudah parah dan sampai ke akar, terpaksa gigi harus dicabut, kemudian diganti dengan gigi tiruan atau implan," saran drg. Rina.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(AWP)
