Ilustrasi-Pexels
Ilustrasi-Pexels

Remaja 15 Tahun di Texas Meninggal karena Rokok Elektrik

Rona kesehatan paru-paru rokok elektrik
Sunnaholomi Halakrispen • 06 Mei 2020 15:20
Jakarta: Rokok elektrik atau vape kerap kali disebut lebih baik dibandingkan dengan rokok konvensional. Namun, nyatanya sama-sama membahayakan kesehatan Anda, bahkan hingga adanya dampak kematian baik pada orang dewasa maupun remaja.
 
Seorang remaja Texas berusia 15 tahun yang meninggal karena vaping menjadi korban termuda sejauh ini dalam data orang meninggal dunia terkait vaping. Kematian remaja itu diumumkan oleh Dallas County Health and Human Services, The New York Times.
 
Pada sebuah pernyataan pada 31 Desember 2019, pejabat Texas mengatakan remaja itu memiliki kondisi medis yang mendasari kronis. Tetapi, tidak mengidentifikasi kondisinya, jenis kelamin pasien, atau produk apa yang telah remaja itu gunakan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Melaporkan kematian pada seorang remaja karena Evali (cedera paru yang terkait vaping atau rokok elektrik) sangat tragis," kata Dr. Philip Huang, direktur kesehatan Kabupaten Dallas, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari WebMD.
 
"Kami melihat bahwa kerusakan paru-paru yang parah, dan bahkan kematian, dapat terjadi hanya dengan penggunaan jangka pendek dari produk ini," tambahnya.
 
Sementara terdapat sebanyak 2.602 kasus penyakit dan 57 kematian di Amerika Serikat, per Selasa, 7 Januari 2020. Mereka yang telah meninggal berusia antara 15 dan 75 tahun, dengan usia rata-rata 51 tahun.
 
Wabah tampaknya melambat, tetapi negara-negara masih melaporkan kasus baru setiap minggunya. Bahkan lebih banyak kematian sedang diselidiki, kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat.
 
Sementara itu, rokok konvensional dan vape atau rokok elektrik sama-sama mengandung nikotin pada dasarnya. Hal yang harus dipahami, nikotin membuat efek adiksi atau ketagihan. Dampaknya pun jangka panjang. Jika masuk ke vaskular, akan masuk ke dalam pembuluh darah.
 
Sedangkan, kandungan dari nikotin ada nitrosamin. Bahan itu bersifat karsinogen yang bisa menginduksi terjadinya kanker yang sebagian besar adalah kanker paru.
 
"Risiko yang sering muncul ialah peradangan, contohnya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Itu lebih tinggi pada perokok. Kedua asma, PPOK. Pada beberapa penelitian resiko itu juga muncul pada perokok elektronik," tutur Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) Ketum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).
 
(FIR)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif