Ilustrasi-Pexels
Ilustrasi-Pexels

Mengapa Anda Merasa Lelah Walau Hanya di Rumah?

Rona Virus Korona virus corona covid-19 tips work from home
Kumara Anggita • 20 Mei 2020 18:05
Jakarta: Pandemi covid-19 membuat kita harus berdiam di rumah agar risiko terpapar virus berkurang. Pada awalnya, mungkin beberapa orang merasa senang dengan kebijakan ini, mengingat mereka tak perlu naik transportasi, macet-macetan, dan banyak berjalan.
 
Namun entah mengapa, lama-kelamaan rasa capek malah lebih muncul dalam masa-masa ini. Kenapa hal ini bisa terjadi?
 
Anda merasa lelah walau hanya tinggal di rumah karena gaya hidup Anda yang berubah drastis, akibat virus korona memberikan dampak besar pada kesehatan mental energi Anda. Gaya hidup baru ini membuat tubuh Anda mengalami stres.

Mengapa stres menyebabkan lelah?

Beberapa pemicu stres dapat membantu seseorang untuk fokus dan menyelesaikan masalah. Misalnya seperti ketika Anda harus membuat tenggat waktu untuk presentasi, stres ini dimaksudkan untuk sementara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun yang kita alami akibat covid-19 ini adalah stres jangka panjang. Ditambah aliran berita yang terus-menerus membuat tubuh semakin aus.
 
"Orang-orang menghadapi tantangan yang benar-benar mengaktifkan sistem saraf simpatik. Jadi ini semacam respons 'pertarungan atau pelarian' klasik," kata Craig N. Sawchuk, seorang psikolog di Mayo Clinic.
 
“Anda mendapatkan pelepasan hormon untuk membantu kita tetap seperti adrenalin dan kortisol. Itu adalah hal bagus. Sangat adaptif bahwa tubuh kita dapat membalik saklar itu. Tapi itu juga tidak dimaksudkan untuk membakar secara konstan. Dan di situlah kita mengalami masalah fisik ini,” ungkapnya.
 
Menurut Sawchuk, ketika otak Anda terus-menerus berusaha beradaptasi dengan ketidakpastian, ketakutan, dan tantangan, seperti yang terjadi selama seluruh pandemi ini, tubuh Anda secara fisik menjadi lelah karena mengelola semua stres emosional.
 
"Dan di situlah Anda mulai melihat beberapa masalah energi mulai terjadi," kata Sawchuk.
 
"Kita mungkin benar-benar jadi beristirahat lebih banyak. Kadang-kadang tanpa sengaja, tapi itu bukan jenis istirahat yang restoratif,” tambahnya.
 
Pengeluaran energi tidak hanya lewat aktivitas fisik saja. Energi itu juga keluar dalam emosi, mengatur perasaan kami, berpikir, khawatir dan beradaptasi dengan tantangan baru.
 
“Kita memikirkan energi fisik, emosional, dan mental yang semuanya berasal dari pot yang sama, sehingga kita dapat memikirkan berbagai sistem dalam kehidupan kami yang terus-menerus 'menyala' dan pada gilirannya, terus-menerus mengeringkan dan melemahkan kita” kata Sawchuk.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif