Mixed feeling, yaitu seseorang bisa merasa senang dan sedih, atau gugup tetapi bersemangat di saat yang bersamaan dalam survei selama covid-19 ini. (Foto: Pexels.com)
Mixed feeling, yaitu seseorang bisa merasa senang dan sedih, atau gugup tetapi bersemangat di saat yang bersamaan dalam survei selama covid-19 ini. (Foto: Pexels.com)

Mixed Feeling yang Makin Sering Muncul Saat Pandemi Covid-19

Rona psikologi kesehatan mental covid-19 pandemi covid-19
Kumara Anggita • 15 Mei 2020 06:00
Jakarta: Ketika covid-19 hadir, kesehatan mental juga sedikit banyak terdampak. Ini karena emosi negatif seperti stres, ketakutan, cemas kerap kali muncul. Namun usut demi usut, bukan emosi negatif saja yang muncul dalam keadaan ini. Ada yang namanya emosi yang tercampur (mixed feeling).
 
Dilansir dari Psychology Today, pandangan alternatif menunjukkan emosi positif dan negatif bervariasi secara mandiri. Oleh karena itu, mereka bisa datang bersamaan.
 
Oleh karena itu, seseorang bisa merasa senang dan sedih, atau gugup tetapi bersemangat di saat yang bersamaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perasaan ini justru lebih sering terjadi dibandingkan emosi negatif yang pure. Penelitian ini menunjukkan bahwa emosi murni hanya muncul kurang dari 1 persen selama satu atau dua minggu kehidupan sehari-hari. Sementara, emosi campuran datang dengan angka 36 persen.
 
Dan menariknya, emosi ini semakin kuat dalam masa pandemi covid-19. Dalam masa lockdown, para peneliti melakukan survei.
 
“Untuk mengetahuinya, kami mensurvei 854 penduduk Australia tentang pengalaman emosional mereka pada akhir Maret, ketika pembatasan pemerintah diberlakukan. Sejalan dengan pelaporan yang tersebar luas, kami menemukan bahwa 72 persen dari sampel kami memang mengalami emosi negatif,” ujarnya.
 
“Namun, hampir semua orang ini juga melaporkan merasakan emosi positif, seperti kegembiraan dan kepuasan. Dan hanya 3 persen dari sampel kami yang melaporkan emosi murni negatif ketika krisis terjadi. Jadi kesimpulannya, sekitar 70 persen orang melaporkan merasakan emosi yang campur aduk. Ini jauh lebih tinggi daripada yang ditemukan sebelumnya oleh Barford dan rekannya,’ jelasnya.
 
Sang peneliti, Barford, K. A., Koval, P., Kuppens, P. & Smillie, L. D dan rekan-rekannya akhirnya menemukan bahwa tingkat emosi campuran yang tinggi selama krisis covid-19 mungkin merupakan hasil dari peningkatan emosi negatif yang menyatu dengan emosi positif.
 
Perasaan campur aduk dianggap muncul dari manifestasi pikiran dan perasaan yang bertentangan tentang kesulitan kita saat ini.
 
“Misalnya, kita mungkin tidak menyukai jarak sosial, tetapi menyetujuinya demi kesehatan kolektif kita. Atau kita dapat menikmati kebaruan pengaturan kerja yang diubah (seperti bekerja dari rumah/wfh),” jelasnya.

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif