Stunting itu tidak sama dengan stunted atau perawakan pendek. Tetapi, anak-anak dengan stunting sudah pasti perawakannya pendek. (Ilustrasi/Pexels)
Stunting itu tidak sama dengan stunted atau perawakan pendek. Tetapi, anak-anak dengan stunting sudah pasti perawakannya pendek. (Ilustrasi/Pexels)

Anak Pendek Belum Tentu Stunting

Rona stunting
Sunnaholomi Halakrispen • 28 Agustus 2020 12:04
Jakarta: Stunting merupakan salah satu bentuk malnutrisi yang menjadi masalah sosial dan ekonomi yang terus berlanjut di Indonesia. Tandanya, anak terlihat lebih pendek dan atau berat badan anak jauh lebih rendah dibandingkan anak seusianya.
 
Namun, anak yang pendek belum tentu stunting. Hal ini disampaikan Dr. dr. Conny Tanjung, Sp.A(K) selaku Dokter Spesialis Anak bidang Nutrisi dan Metabolik di RS Pantai Indah Kapuk.
 
"Tidak semata-mata anak terlihat pendek itu stunting. Tetapi ada hambatan pertumbuhan. Penyebab tersering adalah kualitas makanan yang kurang baik atau ketidakcukupan energi dan protein disertai dengan penyakit yang sifatnya akut atau kronis," ujarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan, stunting itu tidak sama dengan stunted atau perawakan pendek. Tetapi, anak-anak dengan stunting sudah pasti perawakannya pendek. 
 
Ia pun menjelaskan ada banyak penyebab dari anak pendek. Bisa dari faktor genetik, bisa juga karwmena adanya kelainan kromosom pada anak. Penyebab lainnya, anak yang saat kecil terlihat pendek tetapi saat besar dia akan tinggi, dan ini terbilang normal.
 
Menurut Dr. Conny, tumbuh kembang anak harus selalu diperhatikan. Salah satunya, dengan menimbang berat badan anak sebanyak delapan kali dalam 12 bulan. Demikian juga mengenai panjang badan atau tinggi badan.
 
Setelah ditimbang dan mengetahui tinggi anak, orang tua pun harus memahami apa yang harus dilakukan. Hasil pengukuran ini harus kita taruh di dalam kurva pertumbuhan, untuk mendeteksi adanya faltering growth. 
 
"Jadi kuncinya growth velocity. Itu gunanya monitoring pertumbuhan. Misalnya, tadinya di persental 25 atau set score yang 51 trus turun jadi di minus 2. Ini growth velocity-nya enggak bagus. Trus yang jadi awalnya jangan ketemu di sini. Jadi mesti hati-hati," jelasnya.
 
Apabila berat badan anak tidak bertambah, tingginya pun menjadi turun, maka secara kasar, ada kemungkinan anak mengalami stunting. Meskipun memang hanya dokter yang bisa lebih mendeteksi kondisi anak stunting atau tidak, namun para ibu bisa awas atau sigap menyikapi kondisi tumbuh kembang anak. 
 
Ia menekankan, jangan puas dengan hanya berat badan anak aman, karena berat badan tidak bisa mendeteksi stunting. Untuk memahami apakah anak stunted atau stunting, bisa didapatkan dari kurva pertumbuhan yang selanjutnya bisa diprediksi tinggi badan si kecil nantinya.
 
"Lihatlah tren kecenderungan pada grafik. Kalau growth faltering, ada kecenderungan berisiko stunting. Pertumbuhan anak normal itu mengikuti garis pertumbuhan dan mendeteksi gangguan kurva pertumbuhan," pungkasnya.
 

 
(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif