FITNESS & HEALTH
Dokter Ungkap Perbedaan Stunting dan Stunted pada Anak
A. Firdaus
Sabtu 07 Maret 2026 / 13:09
- Kedua kondisi tersebut memiliki penyebab yang berbeda.
- Anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan lebih rendah.
- Stunted bisa berhubungan dengan genetik.
Jakarta: Masih banyak masyarakat yang menyamakan anak bertubuh pendek dengan stunting. Padahal, kedua kondisi tersebut memiliki penyebab yang berbeda.
Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu lama.
Dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Jumat, dr. Ian mengatakan bahwa kondisi ini biasanya dipicu oleh asupan nutrisi yang tidak mencukupi atau adanya penyakit yang mengganggu proses penyerapan nutrisi dalam tubuh.
Menurut dr. Ian, ketika tubuh kekurangan nutrisi, energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan justru dipakai untuk melawan penyakit.
“Nutrisinya tidak cukup. Energi yang masuk bukan digunakan untuk meningkatkan berat dan tinggi badan, tetapi dipakai untuk mengatasi penyakit yang ada,” ujar dr. Ian melansir Antara.
Akibatnya, anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan lebih rendah dibandingkan rata-rata anak seusianya.
Kemudian, dr. Ian menegaskan bahwa kondisi stunted atau bertubuh pendek tidak selalu berkaitan dengan kekurangan nutrisi. Menurutnya, tubuh pendek juga bisa disebabkan oleh faktor genetik, gangguan hormon, atau kondisi medis tertentu.
“Stunted bisa berhubungan dengan genetik, misalnya kedua orang tuanya bertubuh pendek. Bisa juga karena gangguan hormon atau sindrom tertentu, dan itu tidak selalu berkaitan dengan nutrisi,” jelas dr. Ian.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami perbedaan kedua kondisi tersebut agar tidak salah menilai pertumbuhan anak.
Ditambahkan oleh dr. Ian, stunting hingga kini masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian di Indonesia. Untuk mencegahnya, ia mengingatkan para orang tua agar rutin memantau kurva pertumbuhan anak sejak lahir.
Menurutnya, pemeriksaan rutin ke dokter anak sangat penting untuk memantau perkembangan fisik serta mendeteksi lebih awal jika terjadi gangguan pertumbuhan.
“Cara mengatasi stunting adalah dengan memantau kurva pertumbuhan anak. Setiap bulan sebaiknya anak diperiksakan ke dokter anak sampai usia satu tahun, sekalian vaksin dan memantau tumbuh kembangnya,” ujar dr. Ian.
Dengan pemantauan yang rutin, orang tua dapat lebih cepat mengetahui kondisi kesehatan anak serta mengambil langkah yang tepat untuk memastikan pertumbuhan mereka berjalan optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu lama.
Dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Jumat, dr. Ian mengatakan bahwa kondisi ini biasanya dipicu oleh asupan nutrisi yang tidak mencukupi atau adanya penyakit yang mengganggu proses penyerapan nutrisi dalam tubuh.
Menurut dr. Ian, ketika tubuh kekurangan nutrisi, energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan justru dipakai untuk melawan penyakit.
“Nutrisinya tidak cukup. Energi yang masuk bukan digunakan untuk meningkatkan berat dan tinggi badan, tetapi dipakai untuk mengatasi penyakit yang ada,” ujar dr. Ian melansir Antara.
Akibatnya, anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan lebih rendah dibandingkan rata-rata anak seusianya.
Berbeda dengan anak bertubuh pendek
Kemudian, dr. Ian menegaskan bahwa kondisi stunted atau bertubuh pendek tidak selalu berkaitan dengan kekurangan nutrisi. Menurutnya, tubuh pendek juga bisa disebabkan oleh faktor genetik, gangguan hormon, atau kondisi medis tertentu.
“Stunted bisa berhubungan dengan genetik, misalnya kedua orang tuanya bertubuh pendek. Bisa juga karena gangguan hormon atau sindrom tertentu, dan itu tidak selalu berkaitan dengan nutrisi,” jelas dr. Ian.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami perbedaan kedua kondisi tersebut agar tidak salah menilai pertumbuhan anak.
Orang tua diminta pantau pertumbuhan anak
Ditambahkan oleh dr. Ian, stunting hingga kini masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian di Indonesia. Untuk mencegahnya, ia mengingatkan para orang tua agar rutin memantau kurva pertumbuhan anak sejak lahir.
Menurutnya, pemeriksaan rutin ke dokter anak sangat penting untuk memantau perkembangan fisik serta mendeteksi lebih awal jika terjadi gangguan pertumbuhan.
“Cara mengatasi stunting adalah dengan memantau kurva pertumbuhan anak. Setiap bulan sebaiknya anak diperiksakan ke dokter anak sampai usia satu tahun, sekalian vaksin dan memantau tumbuh kembangnya,” ujar dr. Ian.
Dengan pemantauan yang rutin, orang tua dapat lebih cepat mengetahui kondisi kesehatan anak serta mengambil langkah yang tepat untuk memastikan pertumbuhan mereka berjalan optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)