Di tengah pandemi covid-19, gangguan psikososial menghantui anak dan orang tuanya saat menghadapi proses sekolah di rumah. (Ilustrasi/Pexels)
Di tengah pandemi covid-19, gangguan psikososial menghantui anak dan orang tuanya saat menghadapi proses sekolah di rumah. (Ilustrasi/Pexels)

Gangguan Psikososial Hantui Anak dan Orang Tua di Tengah Pandemi

Rona kesehatan mental
Sunnaholomi Halakrispen • 06 Agustus 2020 10:01
Jakarta: Psikososial merupakan kondisi yang mencakup aspek psikis dan sosial, yang bisa terjadi pada siapa pun. Di tengah pandemi covid-19, gangguan psikososial menghantui anak dan orang tuanya saat menghadapi proses sekolah di rumah.
 
Sebab, kondisi belajar secara daring (dalam jaringan) atau secara online, merupakan hal yang tidak biasa. Bahkan, sulit dilakukan di sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan jaringan internet maupun mereka yang tidak memiliki fasilitas digital.
 
Akibatnya, menimbulkan gangguan psikososial, mulai dari yang ringan hingga berat. Bahkan, perilaku negatif menggunakan fisik pun berisiko terjadi saat anak sekolah di rumah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Orang tua yang tidak siap atau anak tidak siap untuk belajar di rumah, menimbulkan terjadinya kekerasan," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH, dalam webinar Kesehatan Jiwa Kemenkes RI.
 
"Pada kondisi itu, terdapat 11 persen kekerasan fisik dan ada 62 persen kekerasan verbal. Tentu situasi tersebut akan menimbulkan dampak-dampak yang lebih luas," tambahnya.
 
Ia memaparkan, contohnya bisa diperhatikan dari kondisi anak dan orabg tua mereka. Misalnya, saat anak berada di usia dini atau 0-6 tahun, tentu pembelajaran yang akan mereka hadapi sangat terkait dengan usia. 
 
Di sisi lain, orang tua dari anak tersebut bekerja, meskipun menjalani kebijakan masuk kantor dengan bekerja di rumah dengan sistem 50 persen : 50 persen. Kondisi orang tua harus diperhatikan. Bagaimana jika orang tua selama ini sibuk bekerja. 
 
Ada dua kemungkinan yang terjadi, kata Dr. Fidiansjah, yakni anak ditinggalkan di rumah atau dititipkan di tempat pengasuhan anak.
 
"Masalahnya, apakah tempat pengasuhan anak sudah menjalankan protokol covid-19? Di situ tentu ada dampak atau kekhawatiran. Kalau pun di rumah, dia (anak) dengan siapa (dibimbing saat sekolah di rumah)?" paparnya.
 
Selain itu, ada juga pertimbangan lainnya, yakni apabila anak dirawat oleh pengasuh. Apakah pengasuh si anak itu telah mendapatkan penjelasan mengenai potensi penyebaran covid-19 melalui asimtomatik atau OTG (orang tanpa gejala), dan sebagainya. 
 
"Apalagi kalau tidak ada pengasuh, tentu ini yang akhirnya menimbulkan dampak. Termasuk orang tua tidak bisa meninggalkan pekerjaan karena butuh, tentang kebutuhan ekonomi," pungkasnya.
 

 
(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif