Pro Kontra Aturan Seputar Aborsi Aman
Workshop seputar aborsi aman (Foto: Medcom/Sri Yanti Nainggolan)
Jakarta: Aborsi seakan menjadi kata negatif bagi masyarakat, yang umumnya identik dengan ilegal, dosa atau kematian. Padahal, tidak selalu demikian.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), definisi dari aborsi adalah penghentian kehamilan sebelum janin berusia 20 minggu karena secara medis janin tidak bisa bertahan di luar kandungan.

Sebaliknya, jika penghentian kandungan saat janin sudah berusia di atas 20 minggu, maka hal tersebut adalah pembunuhan janin (infaticide).


Program Manager dari Global Comprehensive Abortion Care Initiatives (GCACI) yang berada di bawah naungan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesi (PKBI) Dewi Larasati mengungkapkan bahwa aborsi tak melulu bermakna buruk karena pada dasarnya terdapat dua jenis aborsi, yaitu aborsi aman dan tidak.

"Aborsi aman bisa dilakukan dengan alasan kedaruratan medis, misalnya usia yang terlalu tua untuk hamil, dan hamil karena perkosaan," ujarnya dalam workshop jurnalisme, Jumat 21 September 2018.

Sementara, aborsi tak aman dapat dideteksi dari penyedia layanan medis yang tak tersertifikasi dan penjualan obat secara ilegal, yang kini marak terjadi di dunia maya.

Terkait aborsi aman, Dewi mengungkapkan bahwa aturan seputar Kesehatan Reproduksi belum bisa mengakomodir kebutuhan perempuan akan akses layanan aborsi aman.

Beberapa di antaranya adalah UU No. 36 tahun 2009, PP 61 tahun 2014, dan MPK No. 3 tahun 2016. Salah satu aturan yang digarisbawahi adalah usia kandungan harus di bawah empat minggu saat melakukan aborsi.

Menurut Dewi, usia kandungan tersebut cukup riskan dalam melakukan aborsi karena masih sangat kecil dan bisa memicu komplikasi bila dilakukan secara bedah. Di satu sisi, tak banyak wanita yang menyadari mereka sudah mengandung ketika usia kandungan di bawah empat minggu.

Selain itu, dalam beberapa kasus, terutama perkosaan, dibutuhkan tahapan secara hukum yang perlu dilakukan seperti konseling dan visum, yang bisa memakan waktu hingga dua minggu. Ketika mengajukan permintaan untuk aborsi aman, usia kandungan kemungkinan sudah melebihi empat minggu.

Oleh karena itu, PKBI menganggap bahwa usia kandungan yang ideal untuk melakukan aborsi aman adalah 6-8 minggu.

Meskipun dianggap negatif,  lebih dari 56 juta perempuan mengakses layanan aborsi setiap tahun dengan  satu dari empat kehamilan di dunia berakhir dengan aborsi. Pengakses juga berasal dari berbagai jenis kalangan, baik yang sudah menikah atau belum dan mereka yang sudah atau belum memiliki anak.

Secara keseluruhan, akses daring tersebut banyak dimanfaat mereka yang berada pada usia subur.

Tingginya permintaan konseling

Gencar mengampanyekan aborsi aman, faktanya juga sering mendapatkan keluhan seputar Kehamilan Tak Diinginkan (KTD). Terdapat lebih dari 78 ribu klien yang meminta layanan konseling KTD sejak tahun 2007 hingga Juni 2018. Artinya, setidaknya ada lebih dari 20 keluhan atau konseling yang masuk setiap harinya.

Dari 13 klinik di berbagai propinsi yang didirikan sejak tahun 2008, GCACI mencatat DI Yogyakarta sebagai kota tertinggi dalam konseling KTD. Disusul dengan Sulawesi Utara, Jakarta, dan Bali.

"Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai ibu rumah tangga dan berusia 19-34 tahun," tambah Dewi.

Dalam konseling tersebut, Dewi mengungkapkan bahwa tidak semua klien yang mengalami KTD menginginkan aborsi aman. Inilah fungsi dari konseling tersebut, memberikan pilihan yang paling tepat bagi klien, ujar Dewi.

Konseling yang disediakan oleh GCACI sendiri tak hanya terkait KTD dan aborsi aman, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi seperti pemeriksaan kehamilan dan seputar HIV/AIDS.

"Kami juga menyediakan konsultasi web di PKBI Pusat yang tiap hari menampung 50-100 orang di mana 50 persen menanyakan seputar KTD dan kekerasan dalam hubungan," katanya.

Tak hanya di DKI Jakarta, PKBI juga menyediakan hotline untuk beberapa daerah seperti DI Yogyakarta, Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Di satu sisi, kemudahan akses tersebut ternyata berdampak pada pelayanan fisik. Dewi mengungkapkan bahwa dari 13 klinik di daerah, kini tinggal lima saja, meskipun daerah masih memiliki cabang untuk lebih memudahkan klien.

"Akses informasi yang mudah melalui internet membuat klien tak harus mendatangi klinik lagi. Tetapi kami juga masih mempertanyakan, memang karena itu ada mereka mendapat akses lain?" ujar Dewi yang khawatir justru dapat membahayakan klien bila tidak resmi.




 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id