Fakta-fakta Mengenai ALS yang Menyerang Stephen Hawking

Raka Lestari 15 Maret 2018 08:22 WIB
stephen hawking
Fakta-fakta Mengenai ALS yang Menyerang Stephen Hawking
ALS menyebabkan sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang menurun. (Foto: AFP/Andrew Cowie)
Jakarta: Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) paling sering terjadi pada orang berusia antara 50 dan 70 dengan usia diagnosis rata-rata adalah 55, tapi penyakit ini dapat menyerang orang berusia 20 sampai 30-an.  

Ilmuwan terkenal di dunia Stephen Hawking, adalah penderita ALS yang paling terkenal, dia didiagnosis menderita penyakit ini saat berusia 21 tahun. Menurut ALS Association, penyakit ini 20 persen lebih umum terjadi pada pria daripada wanita dan 93 persen pasien berkulit putih. 

Gejala awal ALS 
Kram dan otot kaku adalah salah satu gejala awal ALS. Gejala awal lainnya termasuk kelemahan otot pada satu lengan atau tungkai, kedutan, berbicara kurang jelas, dan kesulitan menelan, tergantung di mana kerusakan neuron motorik terjadi di tubuh, menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 


Orang Amerika didiagnosis mengalami ALS setiap 90 menit 
Dilansir dari Reader's Digest setiap tahun, lebih dari 6000 orang Amerika Serikat didiagnosis dengan ALS, atau satu orang setiap 90 menit. Seseorang juga meninggal karena ALS setiap 90 menit. Penyakit ini bisa menelan biaya lebih dari USD200.000 per tahun.

(Baca juga: Mengenal ALS, Penyakit yang Diderita Stephen Hawking)


(ALS menyebabkan sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang menurun. Foto: Dok. AFP/Niklas Halle'n)

Pasien ALS memiliki pikiran yang tajam 
Meskipun ALS secara fisik melemahkan, penyakit ini tidak mempengaruhi indra seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan sentuhan, juga tidak mempengaruhi ketajaman mental seseorang atau kecerdasan. 

Ketika pasien tidak dapat lagi berbicara atau bergerak, mereka dapat menggunakan kemajuan teknologi seperti pelacakan mata, yang memonitor gerakan bola mata pasien dan memungkinkan mereka untuk mengeja kata-kata yang diucapkan oleh komputer, atau bermain piano virtual tanpa perlu menggerakkan otot lainnya. 

Tidak ada obat untuk ALS
Food and Drud Administration (FDA) menyetujui perawatan pertama untuk membantu memperpanjang umur mereka dengan ALS pada tahun 1995, namun masih belum ada penyembuhannya. Pengobatannya yaitu Riluzole, memperlambat perkembangan ALS dengan menghalangi pelepasan glutamat, senyawa yang diyakini melukai sel saraf. 

Sebuah studi tahun 2013 di jurnal Annals of Neurology menemukan kaitan antara memakan buah dan sayuran berwarna cerah, yang dikemas dengan antioksidan yang disebut karotenoid, dan risiko yang lebih rendah atau serangan ALS yang lebih lambat.

ALS berakibat fatal
ALS menyebabkan sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang menurun. Akibatnya, sistem saraf pasien semakin kehilangan fungsi sampai mereka mengalami infeksi yang mengancam jiwa, serangan jantung atau gagal jantung, pembekuan darah, atau masalah pernapasan.  

Sebagian besar pasien meninggal dalam waktu tiga sampai lima tahun setelah diagnosis. Sekitar 20 persen pasien ALS hidup lima tahun atau lebih, dan sampai 10 persen hidup selama lebih dari 10 tahun, menurut data yang dikumpulkan oleh Robert Packard Center untuk Riset ALS di Johns Hopkins.









(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id