Memiliki mata minus harus menggunakan kaca mata yang tepat secara konsisten dan memeriksakan mata Anda setidaknya setahun sekali. (Foto Ilustrasi: Josh Calabrese/Unsplash)
Memiliki mata minus harus menggunakan kaca mata yang tepat secara konsisten dan memeriksakan mata Anda setidaknya setahun sekali. (Foto Ilustrasi: Josh Calabrese/Unsplash)

Bisakah Mata Minus Disembuhkan?

Rona kesehatan mata
Kumara Anggita • 16 April 2019 16:32
Sejatinya, memakai kaca mata adalah alat bantu. Dengan kaca mata, titik fokus penglihatan jadi berada tepat di retina.
 

Jakarta:
Mata minus adalah hal yang saat ini banyak dialami oleh anak zaman sekarang. Penggunaan gadget hingga kebudayaan menonton televisi dari jarak dekat menjadi akar penyebabnya.
 
Tidak ingin pakai kacamata, alhasil mereka mencari cara lain dengan mengonsumsi makanan tertentu, mengikuti terapi, hingga teknik-teknik menarik lainnya yang dapat dilakukan pada mata.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, apakah cara ini benar-benar dapat menyembuhkan minus Anda? Dokter Spesialis Mata, dr. Joshua Lumbantobing, SpM mencoba menjabarkannya.
 
Dengan kaca mata, titik fokus penglihatan jadi berada tepat di retina. Hal semacam ini tidak dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan tertentu, mengikuti terapi, atau teknik-teknik lainnya yang dapat dilakukan pada mata.
 
“Kenapa ada miopi dan hipermetropi? Saat mereka melihat titik fokusnya tidak jatuh tepat di retina akibatnya kualitas gambar yang dihasilkan tidak maksimal. Jadi targetnya membantu titik fokus itu jatuh tepat di retina,” tuturnya pada Medcom.id.
 
Dengan seperti itu, Dokter Joshua mengatakan bahwa mata minus atau plus bisa dikatakan tidak seperti penyakit pada umumnya. Yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau latihan tertentu dan kerap kali ditawarkan di berbagai iklan atau media. Hal yang bisa dilakukan prinsipnya adalah menggunakan kaca mata yang sesuai sebagai alat bantu.
 
“Bicara tentang gangguan refraksi sebenarnya ini bukan penyakit yang ibaratnya ada istilah
sembuh. Tapi lebih cocok dikatakan bahwa gangguan ini pengobatannya dikoreksi yang salah satunya dengan kacamata, baik itu plus ataupun minus,” ujarnya.

Baca juga: Semangat Monik Menjaga Perbatasan RI dan Malaysia

Selain menggunakan kaca mata, ada hal lain yang bisa Anda lakukan seperti penggunaan lensa kontak atau pembedahan khusus seperti LASIK atau tanam lensa. Tentunya untuk tindakan pembedahan ini, banyak bahan pertimbangan yang dapat dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.
 
“Pengobatannya itu dengan koreksi optik yang pertama pakai kacamata, atau penggunaan lensa kontak,” tutur Dokter Joshua.
 
Yang kedua adalah pembedahan dengan tujuan membantu mengkoreksi gangguan refraksi pada mata. Salah satu contohnya adalah LASIK (Laser in-situ Keratomileusis).
 
"Selain LASIK ada juga pembedahan dengan menambahkan lensa tanam dalam bola matanya, tentunya dengan indikasi yang sesuai" lanjutnya.
 
Hal lain yang bisa Anda terapkan selain mendapatkan koreksi adalah menekan potensi
penambahan minus pada mata. Terutama pada masa kanak-kanak. Caranya adalah dengan mengubah pola membaca yang tidak baik dan memberi istirahat pada mata.
 
“Dengan tingkat penggunaan gadget semakin tinggi serta kebiasaan membaca dengan cara yang tidak tepat seperti pencahayaan yang kurang, membaca dengan posisi terlentang tanpa pencahayaan dari arah yang benar, dan dengan jarak yang terlalu dekat, serta kurangnya aktivitas di luar ruangan. Semua itu dapat memunculkan potensi gangguan refraksi pada mata," ujarnya.
 
Bisakah Mata Minus Disembuhkan?
dr. Joshua Lumbantobing, SpM (Foto: Kumara/Medcom.id)
 
Oleh karena itu, diperlukan mengubah pola membaca dan berupaya mengistirahatkan mata Anda. Apalagi harus dipaksa fokus pada gadget atau membaca.
 
Tak hanya itu, Anda yang sudah memiliki minus pada mata juga harus menggunakan kaca mata yang tepat secara konsisten dan memeriksakan mata Anda setidaknya setahun sekali.
 
“Penggunaan kaca mata dengan ukuran lensa plus maupun minus yang tidak sesuai akan mengganggu fungsi penglihatan, membuat rasa tidak nyaman, serta menimbulkan keluhan seperti cepat lelah dan pusing," terang Dokter Joshua.
 
"Selain itu, bila dibiarkan terus menerus khususnya pada anak-anak, hal ini akan membuat potensi penglihatan anak menjadi berkurang bahkan dapat permanen. Hal ini disebut dengan istilah ambliopia atau mata malas,” tutupnya.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif