Stephen Porges (2011), seorang profesor psikiatri, mengamati bahwa manusia memerlukan isyarat tentang orang lain. Hal ini didapatkan dari ekspresi wajah. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Stephen Porges (2011), seorang profesor psikiatri, mengamati bahwa manusia memerlukan isyarat tentang orang lain. Hal ini didapatkan dari ekspresi wajah. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Melihat Ekspresi Wajah Bisa Bantu Kita Bedakan Teman atau Musuh

Rona psikologi kesehatan mental
Kumara Anggita • 26 Mei 2020 09:00
Jakarta: Pernahkah Anda melihat seseorang dan Anda berpikir bahwa intuisi berkata orang tersebut baik, menyenangkan, menyebalkan dan semacamnya? Penilainan itu tak muncul tiba-tiba.
 
Dilansir dari Psychology Today, manusia memang membaca isyarat dari indra yang dimilikinya. Hal ini digunakan untuk membedakan seseorang adalah kawan atau musuhnya.
 
Stephen Porges (2011), seorang profesor psikiatri, mengamati bahwa manusia memerlukan isyarat tentang orang lain. Hal ini didapatkan dari ekspresi wajah, nada suara, dan postur tubuh. Hal ini pada dasarnya digunakan untuk menilai apakah seseorang aman atau tidak. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bessel van der Kolk menyatakan bahwa untuk bertahan hidup dan berkembang, manusia harus dapat membedakan orang lain sebagai kawan atau musuh. Manusia harus tahu kapan situasi aman atau berbahaya. Tanpa hal-hal tersebut, manusia cenderung salah menafsirkan seseorang atau situasi sebagai sebuah ancaman.
 
Ekspresi wajah orang lain membantu kita menenangkan sistem saraf kita. Akan tetapi jika kita tidak menerima sinyal itu karena kita tidak bisa membaca ekspresi seseorang maka kita jadinya masuk ke mode bertahan hidup.
 
Bertahan hidup di sini maksudnya adalah Anda beralih ke mode membeku (freeze), menghindar (flight), dan melawan (fight).
 
Meredakan perasaan terancam
Ketika Anda merasa terancam seperti ini pada situasi atau orang lain, sesungguhnya ada hal yang bisa Anda lakukan untuk meredakan perasaan ancaman tersebut.
 
Dalam buku berjudul "Heal the Body. Heal the Mind. A Somatic Approach to Moving Beyond Trauma," teknik relaksasi seperti menarik napas dalam-dalam, mendengarkan musik yang menenangkan atau mengilhami di headphone, atau mencium aroma yang enak dapat membantu untuk tetap tenang. 
 
Anda juga bisa melibatkan otot-otot wajah Anda seperti dengan mengunyah permen karet, menyenandungkan, atau menyanyi. Hal ini berfungsi untuk mengaktifkan saraf vagus yang akan menjinakkan sistem saraf yang tertekan.
 
Jadi itulah pentingnya kita membaca ekspresi wajah seseorang. Dengan ini kita jadi dapat banyak informasi yang dampaknya bisa membuat kita merasa tenang atau terancam. 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(TIN)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif