Kondisi pada ibu hamil akan memengaruhi kondisi ibu saat melahirkan nanti, yang akan memengaruhi kondisi bayi 0-6 bulan, 7-11 bulan, lalu 11-24 bulan. (Ilustrasi/Pexels)
Kondisi pada ibu hamil akan memengaruhi kondisi ibu saat melahirkan nanti, yang akan memengaruhi kondisi bayi 0-6 bulan, 7-11 bulan, lalu 11-24 bulan. (Ilustrasi/Pexels)

Perilaku Orang Tua Juga Bisa Menyebabkan Anak Stunting

Rona stunting
Raka Lestari • 30 Juli 2020 13:07
Jakarta: Stunting adalah kondisi dimana anak mengalami gagal tumbuh dan gagal kembang. Stunting biasanya diidentikkan dengan kondisi tubuh anak yang pendek. Meskipun memang, salah satu indikator anak yang stunting adalah pendek.
 
“Stunting bukan melulu soal tinggi badan yang tidak tercapai. Lebih jauh lagi, kondisi ini akan menentukan kualitas-kualitas anak di kemudian hari,” ujar Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, Pakar Nutrisi, pada acara diskusi daring Peran Komunikasi Perubahan Perilaku dalam Pencegahan Stunting, Rabu, 29 Juli 2020. 
 
Ia memaparkan bahwa stunting berkembang selama 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Kondisi pada ibu hamil akan memengaruhi kondisi ibu saat melahirkan nanti, yang akan memengaruhi kondisi bayi 0-6 bulan, 7-11 bulan, lalu 11-24 bulan. “Perjalanan inilah yang terjadinya stunting. Kita tidak boleh absen memerhatikan gizi dalam kelompok-kelompok tadi,” ujarnya. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Rita, ada banyak perilaku selama 1000 HPK yang meningkatkan kerentanan terjadinya stunting. Misalnya, masih banyak ibu hamil yang tidak paham soal stunting, dan tidak meyakini bahwa stunting bisa terjadi akibat pola makan yang salah, sehingga ia tidak melakukan pencegahan sejak awal. Sebagian ibu merasa bahwa kehamilan adalah kondisi biasa saja, jadi tidak memperbaiki pola makannya.
 
“Sebagian lain menganggap bahwa makan saat hamil diperuntukkan bagi dua orang. Akibatnya, hanya porsi nasi yang ditambah, agar kenyang. Belum lagi mitos untuk menghindari daging merah, makanan laut, dan kacang-kacangan, yang akhirnya membuat ibu hamil kekurangan protein,” paparnya.
 
Saat melahirkan, masih banyak ibu yang tidak melakukan IMD (inisiasi menyusui dini). Ada pula yang melakukan tapi caranya salah. Bayi hanya diletakkan di area puting susu ibu, dan dianggap selesai. “Padahal yang kita inginkan, bayi bergerak sendiri dari perut ibu untuk mencari puting susu ibu,” terang Rita. Hambatan lain, ada persepsi bahwa ibu melahirkan pasti capek, sehingga bayi pisah kamar dengan ibu agar ibu bisa beristirahat.
 
Kendala lain, ibu sering tidak memiliki praktik menyusui yang baik, sehingga puting menjadi luka. “Sebagian ibu tidak memahami tahapan pengeluaran ASI. Alhasil bayi hanya mendapat karbohidrat dan protein dari ASI tapi tidak mendapat lemak. Belum lagi, suami dan anggota keluarga lain tidak ikut terlibat dalam mengurus bayi sehingga ibu kecapekan sendiri,” tutup Rita. 
 

 

(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif