Cegah Kanker Paru, Jangan Remehkan Batuk
(Foto: BT)
medcom.id, Jakarta: Kanker paru sulit dideteksi dan diobati. Karenanya, upaya pencegahan sangat ditekankan. Langkah pencegahan utama ialah menghindari paparan asap rokok.

Di antara berbagai jenis kanker, kanker paru termasuk yang paling sulit ditangani. Gejalanya yang samar membuat banyak penderita baru terdeteksi ketika sudah masuk stadium lanjut. Pada kondisi demikian, pengobatan sulit dilakukan.

"Kanker paru yang ukurannya sudah 1 cm pun tidak selalu menimbulkan gejala. Padahal, untuk mencapai ukuran 1 cm, penyakitnya mungkin sudah berjalan 10-an tahun, tapi tidak ada keluhan. Itulah sebabnya kebanyakan pasien yang datang ke dokter pada saat kanker sudah masuk stadium lanjut. 80% datang ke dokter saat kondisinya sudah lanjut," ujar dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Jakarta, Elisna Syafruddin dalam diskusi Forum Ngobras bertema Tantangan diagnosis dan harapan hidup kanker paru, di Jakarta, pekan lalu.


Dengan keterlambatan deteksi itu, tidak mengherankan tingkat kematian pasien kanker paru tergolong tinggi. Data penelitian kanker global Globocan menunjukkan angka kejadian kanker paru sebesar 27 per 100 ribu dengan kematian 23 per 100 ribu. Karena itu, lanjut Elisna, upaya pencegahan amat ditekankan. Salah satu langkah pencegahan yang utama ialah menjauhi paparan asap rokok. "Kalau merokok, segeralah berhenti. Jika Anda perokok pasif, cek kesehatan secara rutin," kata Elisna.

Paparan asap rokok terbukti menjadi penyebab kanker paru. Dalam rokok, terdapat 40 zat penyebab kanker (karsinogen). Selain itu, asap rokok yang masuk ke paru-paru akan menyebabkan perubahan pada sel-sel di saluran pernapasan yang bisa memicu mutasi sel menjadi kanker.

"Tubuh memang memiliki kemampuan untuk memperbaiki perubahan sel-sel itu. Tapi, ketika paparan asap rokok terjadi berulang dalam jangka lama, perubahan-perubahan itu terus terjadi.

Bahayanya, ketika perbaikan yang dilakukan sistem dalam tubuh tidak bisa menormalkan sel-sel itu 100% hingga akhirnya menyebabkan mutasi, itulah awal munculnya kanker," papar Elisna.

Korelasi antara rokok sebagai penyebab kanker paru sudah dibuktikan melalui banyak penelitian ilmiah.

Di RSUP Persahabatan, korelasi itu juga tergambar. Menurut Elisna, sekitar 73% pasien kanker paru laki-laki dan 43% pasien kanker paru perempuan merupakan perokok aktif. "Sisanya merupakan perokok pasif yang terus-menerus terpapar asap rokok, meski ada sebagian kecil yang terkena kanker paru karena faktor lain."

"Jika melihat kasus di negara-negara maju, jumlah pria penderita kanker turun seiring dengan jumlah perokok yang turun," imbuh Elisna.

Layanan berhenti merokok

Sayangnya, di Indonesia jumlah perokok terus meningkat. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, jumlah perokok di masyarakat Indonesia meningkat dari 34,2% pada 2007 menjadi 36,3% pada 2013.

"Indonesia masuk tiga besar perokok di dunia, kita terus berusaha menekannya," ujar Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah Kementerian Kesehatan, Niken Wastu Palupi, pada kesempatan sama.

Sebenarnya, di puskesmas ada layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM). Layanan itu untuk membantu masyarakat yang ingin berhenti merokok, tapi sulit atau tidak tahu bagaimana caranya. "Layanan UBM ini sedang dikembangkan agar bisa membantu masyarakat yang ingin berhenti merokok agar bisa benar-benar berhenti. Saat ini jumlah UBM masih di bawah 100 tapi akan terus diperbanyak," imbuh Niken.

Ia menambahkan, berbeda dengan kanker payudara dan kanker serviks yang bisa dideteksi dini dengan mamografi, USG, IVA, dan pap smear, kanker paru tidak demikian. "Karena itu Kemenkes melalui kegiatan promosi kesehatan menjelaskan populasi berisiko, bahaya rokok, radon (gas radioaktif yang tidak tampak, tidak berbau, dan tidak berasa, yang naik ke permukaan bumi melalui proses peluruhan alami uranium yang terdapat pada hampir semua tanah dan bebatuan), polusi indoor maupun outdoor, serta zat-zat karsinogenik di lingkungan kerja."

Jangan remehkan batuk

Pada kesempatan itu, Elisna juga berpesan agar masyarakat tidak meremehkan batuk. Memang, batuk merupakan penyakit yang umum ada di masyarakat. Tapi, bisa jadi itu merupakan pertanda kanker paru.

"Kalau sudah batuk lebih dari 2 minggu segeralah ke dokter. Terlebih jika termasuk kelompok yang berisiko kanker paru. Biar nanti dokter yang memastikan apakah batuknya karena tuberkulosis, penyebab lain, atau kanker paru," terang Elisna. Yang termasuk kelompok berisiko itu ialah perokok aktif maupun pasif, berusia 40 tahun ke atas, dan mereka yang kerap terpapar radon.

"Selain batuk-batuk, gejala lain yang bisa dicurigai sebagai tanda kanker paru ialah sesak napas, nyeri dada, dan penurunan berat badan drastis.

" Terkait dengan upaya menangkal bahaya gas radon yang juga pemicu kanker paru, Elisna menyarankan agar setiap rumah memiliki ventilasi yang barus sehingga udara dapat bersirkulasi dengan baik. Selain itu, tinggi bangunan rumah minimal 50 cm di atas tanah, sebab konsentrasi radon terbanyak ada di permukaan tanah.



(DEV)