FITNESS & HEALTH
Perjalanan Panjang Ibunda Raisa Melawan Kanker Paru-Paru Stadium 4
A. Firdaus
Sabtu 29 November 2025 / 15:00
Jakarta: Kabar duka datang dari penyanyi Raisa Andriana yang mengumumkan wafatnya sang ibunda, Ria Mariaty binti Rachmat Ardiwinangoen pada Sabtu, 29 November 2025, pukul 07.19 WIB di RS Kanker Dharmais, Jakarta.
Almarhumah meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit kanker paru-paru stadium 4. Penyakit yang telah didiagnosis sejak tahun lalu.
Riwayat penyakitnya dimulai dengan gejala sederhana yang akhirnya berkembang menjadi diagnosis serius, memberikan gambaran tentang perjuangan panjang yang dihadapi keluarga ini.
Berikut adalah riwayat sakit ibunda Raisa berdasarkan pengakuan kakaknya, Rinaldi Nurpratama yang dibagikan melalui akun Instagramnya.
Kisah ini dimulai pada Oktober 2024 saat Ria Mariaty mengalami batuk yang berlangsung selama satu bulan penuh. Saat itu, ia didiagnosis menderita tuberkulosis (TBC).
“Oktober 2024: Ibu telah batuk selama sebulan, sehingga ia berkonsultasi dengan seorang internis (spesialis penyakit dalam) dan seorang pulmonologis (spesialis paru-paru). Ia didiagnosis menderita tuberkulosis (TB/TBC, sebutan yang lebih umum di Indonesia) dan dirawat di rumah sakit selama dua minggu,” tulis Rinaldi di akun Instagramnya @rinaldinurpratama (29/01/25).
Setelah pulang ke rumah, ibunda Raisa mendapat obat yang menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, dan pusing. Hanya dalam waktu tiga hari di rumah, ia harus dilarikan kembali ke rumah sakit.
"Hanya tiga hari kemudian, dia harus dirawat kembali di rumah sakit," tulisnya. Dokter memerintahkan pemindaian PET untuk memeriksa kanker. Beberapa hari kemudian, hasilnya mengonfirmasi sang ibunda menderita kanker paru-paru stadium 4 dan sudah menyebar ke beberapa tulang.
Meskipun begitu, perawatan intensif telah dilakukan dan sempat menunjukkan kemajuan yang baik. Semenjak terakhir kali Chemotherapy 29 April 2025 banyak sekali perkembangan Ibunda Raisa yang bagus dan dilanjutkan dengan Imunoterapi 11x.
“Pada 11 September Ibu di check PET Scan, Alhamdulillah hasilnya sangat positif, banyak kanker tidak aktif lagi, hanya sisa sedikit yg masih hidup. Beberapa hari setelah itu Ibu mulai merasa sesak (memang punya asma), lalu tgl 18 September kami antar untuk Imunoterapi ke-12 dengan keadaan sesak. Hasil darah menunjukkan banyak yg harus dikoreksi, dokter sarankan rawat inap. Setelah 5 hari tidak ada peningkatan, tgl 22 September Ibu masuk HCU,” tulis Rinaldi.
“Selama 3 hari sesak makin parah, kecemasan memperburuk, tgl 24 September dokter putuskan pasang Ventilator agar pernapasannya dibantu. Setelah itu dilakukan Bronkoskopi, ditemukan saluran udara hampir tertutup oleh sel kanker aktif. Dokter langsung lakukan Cryosurgery, Ibu dipindahkan ke RS Dharmais 25 September, Alhamdulillah berhasil, jalur napas dibersihkan. Namun Ibu tetap harus Radioterapi agar tidak tumbuh lagi. 27 September dimulailah Radioterapi pertama. Selang ventilator belum bisa dicabut karena masih banyak slime yg belum bisa dikeluarkan,” tambahnya.
Dari saat itulah Ibunda Raisa telah menjalani kemoterapi hingga radioterapi secara intensif di RS Kanker Dharmais Jakarta sampai dinyatakan meninggal dunia.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(FIR)
Almarhumah meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit kanker paru-paru stadium 4. Penyakit yang telah didiagnosis sejak tahun lalu.
Riwayat penyakitnya dimulai dengan gejala sederhana yang akhirnya berkembang menjadi diagnosis serius, memberikan gambaran tentang perjuangan panjang yang dihadapi keluarga ini.
Berikut adalah riwayat sakit ibunda Raisa berdasarkan pengakuan kakaknya, Rinaldi Nurpratama yang dibagikan melalui akun Instagramnya.
Kisah ini dimulai pada Oktober 2024 saat Ria Mariaty mengalami batuk yang berlangsung selama satu bulan penuh. Saat itu, ia didiagnosis menderita tuberkulosis (TBC).
“Oktober 2024: Ibu telah batuk selama sebulan, sehingga ia berkonsultasi dengan seorang internis (spesialis penyakit dalam) dan seorang pulmonologis (spesialis paru-paru). Ia didiagnosis menderita tuberkulosis (TB/TBC, sebutan yang lebih umum di Indonesia) dan dirawat di rumah sakit selama dua minggu,” tulis Rinaldi di akun Instagramnya @rinaldinurpratama (29/01/25).
Setelah pulang ke rumah, ibunda Raisa mendapat obat yang menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, dan pusing. Hanya dalam waktu tiga hari di rumah, ia harus dilarikan kembali ke rumah sakit.
"Hanya tiga hari kemudian, dia harus dirawat kembali di rumah sakit," tulisnya. Dokter memerintahkan pemindaian PET untuk memeriksa kanker. Beberapa hari kemudian, hasilnya mengonfirmasi sang ibunda menderita kanker paru-paru stadium 4 dan sudah menyebar ke beberapa tulang.
Meskipun begitu, perawatan intensif telah dilakukan dan sempat menunjukkan kemajuan yang baik. Semenjak terakhir kali Chemotherapy 29 April 2025 banyak sekali perkembangan Ibunda Raisa yang bagus dan dilanjutkan dengan Imunoterapi 11x.
“Pada 11 September Ibu di check PET Scan, Alhamdulillah hasilnya sangat positif, banyak kanker tidak aktif lagi, hanya sisa sedikit yg masih hidup. Beberapa hari setelah itu Ibu mulai merasa sesak (memang punya asma), lalu tgl 18 September kami antar untuk Imunoterapi ke-12 dengan keadaan sesak. Hasil darah menunjukkan banyak yg harus dikoreksi, dokter sarankan rawat inap. Setelah 5 hari tidak ada peningkatan, tgl 22 September Ibu masuk HCU,” tulis Rinaldi.
“Selama 3 hari sesak makin parah, kecemasan memperburuk, tgl 24 September dokter putuskan pasang Ventilator agar pernapasannya dibantu. Setelah itu dilakukan Bronkoskopi, ditemukan saluran udara hampir tertutup oleh sel kanker aktif. Dokter langsung lakukan Cryosurgery, Ibu dipindahkan ke RS Dharmais 25 September, Alhamdulillah berhasil, jalur napas dibersihkan. Namun Ibu tetap harus Radioterapi agar tidak tumbuh lagi. 27 September dimulailah Radioterapi pertama. Selang ventilator belum bisa dicabut karena masih banyak slime yg belum bisa dikeluarkan,” tambahnya.
Dari saat itulah Ibunda Raisa telah menjalani kemoterapi hingga radioterapi secara intensif di RS Kanker Dharmais Jakarta sampai dinyatakan meninggal dunia.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(FIR)