Ilustrasi puntung rokok--Pexels
Ilustrasi puntung rokok--Pexels

Mengapa ada Perokok yang Tetap Sehat?

Rona rokok gaya
Kumara Anggita • 15 Oktober 2019 12:28
Jakarta: Seperti yang diketahui bahwa merokok memberikan banyak sekali dampak buruk pada tubuh. Namun suka timbul pertanyaan mengapa ada orang yang sakit karenanya namun ada pula yang sehat-sehat saja. Mengapa hal ini terjadi?
 
Mengacu pada studi besar, risiko orang terkena berbagai jenis penyakit lebih besar terjadi pada perokok. Kendati demikian, ini tak berlaku pada setiap individu.
 
"Bicara tentang individu memang tidak bisa masuk masalah rokok. Namun bisa ke studi Epidemiologi. Jadi kalau ada 100 perokok dan 100 tak merokok. Maka dari sana berapa yang kena kanker paru dan TBC lalu dibandingkan," kata Prof Dr. dr. Imam Subekti, SpPD-KEMD di Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rokok bukan penyebab tunggal terjadinya penyakit. Karena itu, Anda bisa menemukan perokok pasif dengan usia tua yang belum memiliki keluhan apapun.
 
"Individu merokok punya resiko namun resiko tak selalu muncul. Dia baru muncul dengan pola hidup lain misal dengan makan makanan tak sehat dan tak olahraga. Jadi muncul gangguan-gangguan rokok," jelasnya.
 
Kandungan yang merugikan di rokok salah satunya adalah nikotin. Zat ini meningkatkan radikal bebas, hipoxia dan pemanjangan perbaikan kadar antibodi dan masih banyak lagi.
 
"Rokok mengandung nikotin. Di sini ada banyak mekanisme yang diteliti salah satunya rokok meningkatkan radikal bebas. Kedua rokok menimbulkan hipoxia dan pemanjangan perbaikan kadar antibodi. Jadi karena kadar antibodi memanjang jadi makin sulit dikendalikan," ujarnya.
 
Misalnya, untuk kasus penyakit Oftalmopati Graves (OG), merokok dapat memperburuk keadaan antara lain:
 
- Peningkatan risiko kejadian penyakit Graves pada perokok
- Peningkatan risiko relaps untuk hipertiroidisme Graves setelah pengobatan anti-tiroid
- Prevalansi perokok lebih tinggi pada pasien OG dibandingkan dengan penyakit Graves tanpa oftalmopati atau kontrol
- Meningkatnya prevelansi OG pada anak-anak dari negara dengan pravelansi perokok remaja yang tinggi (kemungkinan peran perokom pasif)
- OG lebih parah pada perokok
- Menurunkan efektivitas radioterapi orbita dan atau glukokortikoid dosis tingfi untuk OG eedang-berat pada perokok
- Risiko kejadian diplopia dan proptosis lebih rendah pada mantan perokok dibanding perokok saat ini.
 
Pencegahan OG dapat dilakukan dengan tiga klasifikasi yaitu primer, sekunder, dan tersier. Prof. Imam menjelaskan bahwa bukti kuat menunjukan, berhenti merokok adalah intervesni yang fundamental dalam hal pencegahan penyakit primer, sekunder, dan tersier. Karena itu, apapun kondisininya berhentilah merokok dari sekarang.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif