Ilmuwan mengatakan pasien yang pulih dari infeksi paru-paru parah mengalami 'bekas luka imunologis' yang menghambat respons kekebalan tubuh mereka. (Foto: ILustrasi. Dok. Pexels.com)
Ilmuwan mengatakan pasien yang pulih dari infeksi paru-paru parah mengalami 'bekas luka imunologis' yang menghambat respons kekebalan tubuh mereka. (Foto: ILustrasi. Dok. Pexels.com)

Ilmuwan Temukan 'Bekas Luka Imunologis' pada Pasien Covid-19

Rona pneumonia covid-19
Sunnaholomi Halakrispen • 22 Mei 2020 09:00
Jakarta: Ilmuwan mengatakan bahwa pasien yang pulih dari infeksi paru-paru parah mengalami 'bekas luka imunologis' yang menghambat respons kekebalan tubuh mereka. Begitu juga meningkatkan risiko tertular pneumonia, pembunuh umum penderita covid-19.
 
Studi pada manusia dan tikus menunjukkan bahwa respons imun tubuh dimatikan untuk sementara waktu setelah beberapa infeksi parah. Hal itu membuat pasien lebih rentan terhadap penyakit bakteri atau virus baru.
 
Sebuah tim peneliti dari Peter Doherty Institute untuk Infeksi dan Kekebalan Universitas Melbourne dan Rumah Sakit Universitas Nantes menjelaskan temuannya. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mereka menemukan bahwa sel-sel yang membentuk garis pertahanan pertama sistem kekebalan tubuh, makrofag, lumpuh setelah infeksi parah.
 
Makrofag menetralkan bakteri dan meningkatkan alarm internal yang mengirimkan sel-sel kekebalan ke lokasi infeksi. Setelah ancaman diatasi, makrofag menurunkan alat dan tubuh bisa kembali berjalan seperti biasa.

Penelitian

Tetapi, dengan menganalisis sampel darah dari pasien yang menderita infeksi parah, para peneliti menemukan bahwa makrofag mereka telah dinonaktifkan. Hal ini membuat pasien berisiko lebih besar tertular infeksi sekunder yang berpotensi fatal seperti pneumonia saat di rumah sakit.
 
Eropa sendiri melihat sekitar 500.000 pasien rumah sakit terinfeksi pneumonia setiap tahun. Sementara sekitar 10 persen dari mereka meninggal.
 
Para peneliti juga mengidentifikasi pemicu atau diibaratkan sebagai saklar untuk menghidupkan kembali makrofag, reseptor yang dikenal sebagai SIRP-alpha. Ini ditemukan untuk mengembalikan makrofag ke kapasitas maksimal.
 
Tim peneliti mengatakan temuan mereka dapat memengaruhi bagaimana infeksi dirawat di rumah sakit. Termasuk memikirkan kembali penggunaan antibiotik secara sistematis, yang membuat penyakit semakin kebal.
 
"Kami percaya pendekatan alternatifnya ialah mengisi ulang sistem kekebalan tubuh untuk mencegah kelumpuhan sejak awal, sehingga pasien akan dapat melindungi diri mereka sendiri dari infeksi sekunder tanpa menggunakan antibiotik," ujar Jose Villadangos dari Peter Doherty Institute, dikutip dari AFP.
 
"Mematikan saklar yang baru saja dideskripsikan mungkin merupakan pendekatan semacam itu," tutur Villadangos, penulis utama studi yang dipublikasikan di Nature Immunology.
 
Penelitian ini mungkin memiliki implikasi yang signifikan tentang bagaimana kasus covid-19 diperlakukan di masa depan. 
 
Sementara sebagian besar kematian covid-19 terjadi karena badai sitokin, suatu proses di mana respons imun tubuh sendiri berjalan liar yang menyebabkan peradangan akut dan sering kali fatal.
 
Antoine Roquilly, dari University Hospital of Nantes, mengatakan lebih baik memahami SIRP-alpha dan saklar kekebalan lain yang sementara mematikan respons imun tubuh. "Dapat mencegah badai terjadi dan meningkatkan kelangsungan hidup pasien ini," pungkasnya.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif