Di mana ekstrovert suka sekali bertemu orang dan senang berbicara dengan orang lain. Nah, dalam kondisi ini, rasanya psikologisnya 'menjerit' untuk bersosialisasi. Lalu bagaimana caranya untuk 'damai' dalam kondisi isolasi di rumah ini?
Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, M.Psi. dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung menyatakan bahwa hal ini merupakan sesuatu yang sudah melekat pada kehidupan kita sebelumnya, atau habit.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Hal ini dinilai wajar terjadi, karena menurut psikolog yang ramag ini banyak ahli yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
"Hal ini ternyata selaras dengan area “limbic system” pada otak manusia ukurannya juga luas. Bagian ini merupakan pusat emosi dan afeksi pada manusia. Jadi bertemu, bersosialisasi, kebersamaan merupakan salah satu kebutuhan dasar yang ada pada manusia," katanya pada Medcom.id.
Dan menurut sistem kerja otak kebiasaan/habit yang dilakukan minimal 30 hari berturut-turut, maka aktivitas ini akan melekat dalam sistem memori otak (hippocampus).
"Jika hal ini sudah terjadi, maka aktivitas yang dilakukan tersebut menjadi bagian dari kepribadian kita dan melekat sepanjang hidup. Nah, salah satu aktivitas yang sudah menjadi habit seperti yang diungkapkan di atas adalah pergi keluar rumah dalam menjalani rutinitas kerja ataupun melakukan kegiatan yang lain," papar Efnie lagi.
Jadi, sang ekstrovert yang senang berinteraksi, bersosialisasi, dan bergaul psikolog Efnie memberi masukan untuk tidak pasif.
"Mengapa? Jika tetap aktif berkegiatan maka otak akan menerjemahkan bahwa ritme hidup kita masih tetap sama. Dengan demikian dorongan untuk keluar rumah akan semakin kecil," papar Efnie.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
