Sebut saja masalah saat berkemih, disfungsi ereksi, inkontinensia (tidak dapat menahan buang air kecil/ mengompol), infertilitas (ketidaksuburan), sampai masalah kelenjar prostat. Semua itu termasuk gangguan urologi atau gangguan yang terkait dengan saluran kencing dan kelamin.
“Penyakit urologi sebetulnya sering terjadi. Tapi sering kali masyarakat enggan memeriksakan diri. Mungkin malu atau tidak tahu harus ke mana, karena mereka kurang teredukasi,” ujar dokter spesialis urologi Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda, Jakarta, Rachmat Budi Santoso, dalam diskusi media di RS itu, beberapa waktu lalu.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Budi mengaku setiap bulannya menangani hingga 30 pasien baru dengan penyakit urologi seperti batu ginjal, infeksi kandung kemih, hingga kanker prostat. “Biasanya, kalau pasiennya berusia 18 hingga 30 tahun mengalami gejala kencing berdarah, itu karena infeksi. Jika usianya 40-50 tahun, penyebabnya bisa beragam. Karena infeksi, kencing batu, atau kanker prostat,” terang Rachmat.
Ia menyarankan agar masyarakat segera memeriksakan diri jika merasa ada gangguan pada saluran kencing maupun kelamin ke fasilitas yang menyediakan layanan terapi gangguan urologi.
Pada kesempatan sama, dokter spesialis urologi lain dari RSU Bunda, Ponco Birowo, menjelaskan sebagian masalah infertilitas pada pria juga termasuk gangguan urologi. “Ketika ada pasangan infertil, masyarakat cenderung mendiskreditkan istri sebagai pihak yang tidak subur. Padahal, secara medis separuh kasus infertilitas disebabkan pria,” katanya.
Ia menjelaskan sebanyak 8,4% kasus infertilitas disebabkan kelainan bawaan berupa testis (buah zakar) tidak turun ke kantungnya, 7,8% akibat kanker, 2,2% akibat sumbatan saluran sperma, dan 30% lainnya tidak diketahui.
“Beberapa penyebab infertilitas pria yang dapat ditangani ialah kadar hormon testosteron yang rendah, varikokel (pelebaran pembuluh darah balik di daerah kantung buah zakar), dan penyumbatan saluran sperma.”
Ponco lalu mencontohkan peran teknik bedah urologi terbaru, yakni bedah mikro, dalam mengatasi infertilitas pada pria. Menurutnya, bedah mikro dapat membantu dalam mengatasi kelainan varikokel dan sumbatan saluran sperma.
“Bedah mikro pada kasus varikokel menguntungkan karena luka operasi kecil, angka keberhasilan sekitar 70% dan efek samping minimal. Tidak perlu rawat inap, bisa pulang 2 jam usai tindakan.”
Pada kasus sumbatan saluran sperma, operasi mikro bisa berperan dalam hal penyambungan kembali saluran yang tersumbat serta pengambilan spermatozoa untuk program bayi tabung.
Untuk penyambungan kembali saluran sperma yang tersumbat akibat tindakan vasektomi, lanjut Ponco, angka keberhasilannya mencapai 90%, tapi bila penyebab sumbatannya tidak diketahui, angka keberhasilannya hanya 20%-30%.
Adapun untuk pengambilan spermatozoa, teknik bedah mikro memberikan angka keberhasilan sebanyak 66%. Namun, 34% dari pasien tidak dapat menjalani proses pengambilan spermatozoa karena terjadi kerusakan pada testis yang merupakan pabrik spermatozoa.
Dengan begitu, tidak ditemukan spermatozoa sama sekali. Batu ginjal Sementara itu, dokter spesialis urologi RSU Bunda, Sigit Solichin, menjelaskan batu ginjal merupakan gangguan urologi yang paling sering menimpa masyarakat urban.
“Gejalanya nyeri pinggang hebat, mual dan muntah, kencing berdarah, demam, sering kencing atau sulit menahan kencing. Ciri signifikan lainnya, yaitu hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan ada penurunan fungsi ginjal dan air kencing mengandung sel darah merah,“ terang Sigit.
Ia menambahkan, batu ginjal disebabkan pengkristalan mineral urine yang terjadi di dalam ginjal. Untuk mendeteksi pengkristalan pada ginjal, kata Sigit, dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiologi BNO IVP dan CT Scan.
Menurut Sigit, 80% dari batu ginjal yang ukurannya kurang dari 5 mm dapat keluar dengan sendirinya bersamaan dengan saat berkemih.Untuk batu ginjal yang tidak bisa keluar dengan sendirinya, perlu intervensi obat-obatan dan tindakan operasi.
Melengkapi penjelasan Sigit, pada kesempatan itu Rachmat menjelaskan batu ginjal dapat dicegah dengan mencukupi kebutuhan air putih.
“Idealnya setiap orang minum 1,5 hingga 2 liter air mineral per hari. Bukan termasuk kopi atau sirup, ini yang sering kali salah kaprah,“ ujarnya.
Menurutnya, kinerja ginjal amat bergantung pada sirkulasi air yang merupakan komponen terbesar penyusun organ tubuh manusia. Masyarakat urban yang kerap menghabiskan hari-harinya dengan bekerja dalam ruangan ber-AC tanpa minum cukup karena tak haus serta berjibaku dengan polusi membuat ginjal bekerja lebih keras.
“Belum lagi tren suntik vitamin C dan konsumsi suplemen maupun obat-obatan yang memperberat kinerja ginjal. Itu semua harus diimbangi dengan konsumsi air putih yang cukup,“ tambah dia.(Media Indonesia/H-3)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(FIT)
