Selama masa pandemi covid-19, banyak orang yang mungkin merasakan emosi negatif. (Ilustrasi/Pexels)
Selama masa pandemi covid-19, banyak orang yang mungkin merasakan emosi negatif. (Ilustrasi/Pexels)

Tips Mengatasi Emosi Negatif Selama Masa Pandemi

Rona covid-19
Raka Lestari • 01 Juli 2020 09:05
Jakarta: Selama masa pandemi covid-19, banyak orang yang mungkin merasakan emosi negatif. Untuk mengatasinya, beberapa cara bisa dilakukan seperti melakukan hobi yang baru atau dengan berolahraga.
 
Namun pada dasarnya, merasakan emosi negatif pada masa pandemi seperti sekarang merupakan hal yang normal. 
 
“Mungkin terkadang kita bisa merasa tidak happy dan itu merupakan bagian yang normal dalam hidup. Rasa kecewa, marah, sedih, itu menandakan sisi kemanusiaan kita. Dan yang terpenting adalah kita bisa mengontrol emosi negatif kita tersebut agar tidak berkelanjutan,” ujar dr. Fransiska M. Kaligis, Sp.KJ(K), Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUI, dalam Webinar Bicara Sehat Virtual RSUI ke-18, Selasa, 30 Juni 2020. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menekankan bahwa berharap tidak mengalami perasaan negatif atau kecewa justru akan membuat diri kita menjadi kecewa. “Karena kan kita tidak mungkin tidak mengalaminya. Pasti ada dalam satu tahapan hidup, kita merasa marah atau kesal,” ujar dr. Fransiska. 
 
“Untuk mengelola emosi negatif tersebut dengan baik, kita bisa mengelola pikiran kita tersebut. Misalnya kita menganggap bahwa situasi pandemi ini merupakan suatu beban yang berat dan sesuatu yang irasional, cobalah melihat dari sisi rasional. Tidak melihat dari sisi negatif terus-menerus,” ujar dr. Fransiska. 
 
Ia menyarankan agar kita bisa berpikir untuk melakukan suatu hal yang bisa dilakukan agar kita bisa menjadi individu yang lebih baik atau produktif. “Misalnya kita berpikir pada masa pandemi ini jadi tidak bisa melakukan apa-apa, cobalah untuk memandang situasi menjadi emosi yang lebih baik,” ujar dr. Fransiska. Misalnya dengan berpikir bahwa pada masa pandemi, kita bisa menjadi lebih dekat dengan keluarga. 
 
“Kapan kita perlu tahu bahwa kecemasan atau kekhawatiran kita sudah menjadi gangguan? Pada saat emosi negatif tersebut sudah sampai mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Misalnya kecemasan atau kesedihan yang dirasakan ini membuat kita tidak konsentrasi bekerja atau kemudiankita jadi tidak bisa keluar rumah karena kecemasan berlebihan,” tambah dr. Fransiska. 
 
“Atau ketika emosi negatif tersebut sudah menimbulkan gangguan pada proses bersosialisasi. Misalnya ketika interaksi sosial kita yang tadinya baik, kemudian berubah dan menjadi terganggu. Itu berarti pertanda bahwa kita memerlukan bantuan,” tutup dr. Fransiska.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif