DKI Jakarta: Sistem pengereman menjadi salah satu komponen vital dalam menjaga keselamatan berkendara. Namun di balik kinerja rem yang optimal, terdapat komponen penting yang kerap luput dari perhatian, yaitu minyak rem.
Minyak rem memiliki fungsi utama untuk meneruskan tekanan dari tuas atau pedal rem ke sistem pengereman di roda. Saat pengendara menekan rem, tekanan tersebut akan menggerakkan piston sehingga kampas menekan cakram dan memperlambat laju kendaraan.
Seiring penggunaan, kualitas minyak rem dapat menurun. Hal ini disebabkan sifat minyak rem yang mudah menyerap uap air dari udara. Dalam jangka waktu tertentu, kandungan air tersebut dapat mengurangi kemampuan minyak rem dalam menghantarkan tekanan.
Dampaknya, pengereman menjadi kurang responsif, terasa lebih lambat, bahkan dalam kondisi tertentu dapat menimbulkan efek rem seperti kosong. Selain itu, kandungan air juga berpotensi memicu karat pada komponen sistem pengereman yang dapat menurunkan performa secara keseluruhan.
Baca Juga:
1 Mei 2026, Harga BBM Tidak Berubah di Hari Buruh
“Ketika minyak rem sudah tidak dalam kondisi baik, kemampuan dalam meneruskan tekanan akan menurun. Ini yang membuat pengereman terasa kurang responsif dan berpotensi mengurangi daya cengkeram,” ungkap Technical Analyst PT Wahana Makmur Sejati, Wahyu Budhi, melalui keterangan resminya.
Pengendara dapat mengenali sejumlah tanda minyak rem yang perlu diganti. Pertama, perubahan warna dari bening kekuningan menjadi lebih gelap akibat kotoran atau kandungan air. Kedua, tarikan atau tekanan rem terasa lebih dalam dan kurang responsif, yang dikenal sebagai gejala 'rem ngempos'.
Selain itu, performa pengereman yang menurun juga menjadi indikator penting, seperti jarak pengereman yang lebih panjang dan respons yang tidak konsisten, terutama dalam kondisi darurat.
Meski demikian, penggantian minyak rem sebaiknya tidak menunggu hingga gejala muncul. Secara umum, penggantian disarankan setiap 24 bulan atau setelah kendaraan menempuh jarak 24.000 kilometer, tergantung mana yang lebih dulu tercapai.
Baca Juga:
Pilihan Mobil Listrik 7 Seater Termurah Per Mei 2026
“Kami menyarankan konsumen untuk melakukan penggantian minyak rem di bengkel resmi AHASS. Selain menggunakan produk yang sesuai standar, proses pengerjaan dilakukan oleh teknisi terlatih dengan prosedur yang tepat, sehingga keamanan dan performa kendaraan tetap terjaga,” tambah Wahyu.
Melakukan servis di AHASS juga memungkinkan pemeriksaan menyeluruh pada sistem pengereman, sehingga potensi masalah dapat dideteksi lebih awal sebelum berdampak lebih besar. Dengan perawatan yang tepat, sistem pengereman dapat tetap bekerja optimal dan memberikan rasa aman selama berkendara.
DKI Jakarta: Sistem pengereman menjadi salah satu
komponen vital dalam menjaga keselamatan berkendara. Namun di balik kinerja rem yang optimal, terdapat komponen penting yang kerap luput dari perhatian, yaitu
minyak rem.
Minyak rem memiliki fungsi utama untuk meneruskan tekanan dari tuas atau pedal rem ke sistem pengereman di roda. Saat pengendara menekan rem, tekanan tersebut akan menggerakkan piston sehingga kampas menekan cakram dan memperlambat laju kendaraan.
Seiring penggunaan, kualitas minyak rem dapat menurun. Hal ini disebabkan sifat minyak rem yang mudah menyerap uap air dari udara. Dalam jangka waktu tertentu, kandungan air tersebut dapat mengurangi kemampuan minyak rem dalam menghantarkan tekanan.
Dampaknya, pengereman menjadi kurang responsif, terasa lebih lambat, bahkan dalam kondisi tertentu dapat menimbulkan efek rem seperti kosong. Selain itu, kandungan air juga berpotensi memicu karat pada komponen sistem pengereman yang dapat menurunkan performa secara keseluruhan.
“Ketika minyak rem sudah tidak dalam kondisi baik, kemampuan dalam meneruskan tekanan akan menurun. Ini yang membuat pengereman terasa kurang responsif dan berpotensi mengurangi daya cengkeram,” ungkap Technical Analyst PT Wahana Makmur Sejati, Wahyu Budhi, melalui keterangan resminya.
Pengendara dapat mengenali sejumlah tanda minyak rem yang perlu diganti. Pertama, perubahan warna dari bening kekuningan menjadi lebih gelap akibat kotoran atau kandungan air. Kedua, tarikan atau tekanan rem terasa lebih dalam dan kurang responsif, yang dikenal sebagai gejala 'rem ngempos'.
Selain itu, performa pengereman yang menurun juga menjadi indikator penting, seperti jarak pengereman yang lebih panjang dan respons yang tidak konsisten, terutama dalam kondisi darurat.
Meski demikian, penggantian minyak rem sebaiknya tidak menunggu hingga gejala muncul. Secara umum, penggantian disarankan setiap 24 bulan atau setelah kendaraan menempuh jarak 24.000 kilometer, tergantung mana yang lebih dulu tercapai.
“Kami menyarankan konsumen untuk melakukan penggantian minyak rem di bengkel resmi AHASS. Selain menggunakan produk yang sesuai standar, proses pengerjaan dilakukan oleh teknisi terlatih dengan prosedur yang tepat, sehingga keamanan dan performa kendaraan tetap terjaga,” tambah Wahyu.
Melakukan servis di AHASS juga memungkinkan pemeriksaan menyeluruh pada sistem pengereman, sehingga potensi masalah dapat dideteksi lebih awal sebelum berdampak lebih besar. Dengan perawatan yang tepat, sistem pengereman dapat tetap bekerja optimal dan memberikan rasa aman selama berkendara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)