Anak-anak kerap tidak menyadari bahwa mereka tengah stres, dan Anda sebaiknya sadar bahwa kondisi ini merupakan tanda 'lampu merah' dan perlu Anda waspadai. (Foto: Huffpost)
Anak-anak kerap tidak menyadari bahwa mereka tengah stres, dan Anda sebaiknya sadar bahwa kondisi ini merupakan tanda 'lampu merah' dan perlu Anda waspadai. (Foto: Huffpost)

Tanda-tanda Stres dan Penyebabnya pada Anak dan Remaja

Rona psikologi anak
Yatin Suleha • 27 Desember 2016 15:46
medcom.id, Jakarta: Cita-cita Anda setinggi langit demi untuk memperbaiki masa depan si kecil. Dan untuk itu Anda rela untuk memasukannya ke dalam berbagai les atau kelas, juga pelajaran tambahan. Belum lagi berbagai perlombaan yang Anda yakini bisa membuat si kecil tampil maksimal.
 
"Anak-anak kerap tidak menyadari bahwa mereka tengah stres, dan Anda sebaiknya sadar bahwa kondisi ini merupakan tanda 'lampu merah' dan perlu Anda waspadai jika terjadi pada si kecil. Dan untuk mengobatinya, cinta kasih adalah obat paling manjur dari stres," papar Dr. Dono.
 
Berikut ini adalah beberapa tanda stres dan penyebabnya pada anak dan remaja menurut Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D, yang merupakan seorang psychoanalyst, graphologist, sexologist, serta marriage & family therapist:

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(Baca juga: Penyebab & Ciri Anak sedang Stres)
 
1. Sakit kepala
Anak Anda mengeluh kalau kepalanya pusing, lehernya kaku dan pundaknya pegal. Anda sudah membawanya ke dokter untuk memeriksakan matanya dan semuanya sehat saja.
 
-Masalahnya: Bila pikiran anak penuh beban, kesehatan tubuhnya juga terpengaruh. Selain sakit kepala, anak juga bisa mengeluh, merasa letih, perutnya sakit, atau sulit buang air besar.
 
2. Bolos kursus
Si kecil tidak lagi mau pergi les. Ia malah tidak menginginkan lagi berbagai kegiatan usia sekolah, dan lebih memilih untuk di rumah saja, bahkan di dalam kamarnya.
 
-Masalahnya: Setelah seharian di sekolah, seorang anak yang merasa terbebani akan memilih berdiam di tempat di mana ia bisa menghindari tambahan tantangan atau beban.
 
3. Berbohong
Anda bertanya kepada anak apakah ia punya PR atau tugas dan ia menjawab tidak ada sama sekali. Dua hari kemudian Anda baru tahu kalau ia ulangan matematika dan gagal.
 
-Masalahnya: Seorang anak dapat merasa sangat terbebani sehingga ia ingin "istirahat" atau "melepaskan diri." Ia bisa saja berbohong untuk menghindari beban baru.
 
4. Panggilan ke sekolah
Anda dipanggil ke sekolah: guru mangatakan kalau ia berubah menjadi anak yang sulit. Ia terus bermain-main dengan hp-nya, membongkar-bongkar tasnya, melempari potongan kertas ke rambut temannya, melakukan apa pun agar tak perlu fokus ke pelajaran.
 
-Masalahnya: Stres juga dapat berbentuk tingkah gelisah; entah sekedar menggerak-gerakkan terus tangan dan kakinya atau tindakan yang mengganggu orang lain. Di rumah, mungkin ia mengalami perubahan pola tidur entah sulit tidur atau malah tidur terus.
 
5. Membantah atau melawan
Anda bertanya kepada si kecil apakah ia sudah mulai mengerjakan proyek ilmiahnya. Ia malah meradang kepada Anda. "Cerewet amat sih Mama? Bisa tidak nggak nganggu aku?"
 
-Masalahnya: Kemarahan, agresi dan reaksi emosional adalah tanda klasik bahwa anak Anda mengalami keletihan secara emosional. Ada persoalan berat yang sulit diatasinya sendiri yang mudah memicunya untuk marah. 
 

 

 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(TIN)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif