Ilustrasi-Pexels
Ilustrasi-Pexels

Penyakit Alzheimer Akhirnya Ada Obatnya

Rona demensia
Sunnaholomi Halakrispen • 09 Desember 2019 14:41
Jakarta: Selama ini belum ada yang menemukan obat ampuh demi menangani penyakit alzheimer. Namun belakangan, ada obat baru yang berpotensi biogen untuk menangani penyakit ini dari Biogen.
 
Berdasarkan ilmuwan saraf terkemuka, mengikuti ulasan yang lebih terperinci dari data penelitian yang rumit dan membingungkan, mengatakan obat aducanumab dapat menawarkan harapan pertama dalam 16 tahun untuk perawatan klinis.
 
R. Scott Turner selaku direktur Memory Disorders Program Georgetown University yang bermitra dalam penelitian obat ini mengatakan, penemuan tersebut menawarkan harapan terbaik untuk pengobatan signifikan pertama sejak 2003.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hasil aducanumab yang disajikan hari ini benar-benar menarik dan merupakan terobosan besar dalam pengobatan penyakit Alzheimer," ujar Turner dilansir Washington Post.
 
Studi ini membuktikan bahwa kita berada di jalur yang benar untuk mengembangkan perawatan penyakit yang lebih efektif dan memodifikasi penyakit. Semua itu dirancang untuk menghentikan atau memperlambat penurunan daya ingat pada tahap penyakit paling awal. Yakni ketika pasien masih relatif independen dalam fungsi sehari-hari mereka.
 
Pihak Biogen mengatakan berencana untuk meminta persetujuan FDA awal tahun depan. Jika disetujui, obat tersebut akan menjadi yang pertama untuk mengobati patologi yang mendasari penyakit penyebab demensia.
 
Pengumuman itu muncul sekitar dua bulan setelah perusahaan farmasi mengumumkan bahwa setelah melihat data dari salah satu studinya yang dianggap telah gagal dan mendengar pengalaman anekdot dari peserta penelitian dan pengasuh mereka. Obat itu pun menunjukkan bukti adanya efektivitas terhadap alzheimer.
 
"Obat tampaknya memperlambat laju penurunan sebesar 40 persen. Kami berbicara tentang orang-orang pada tahap penyakit ringan yang masih dapat bekerja, berbelanja, bepergian, menikmati kegiatan rekreasi lebih lama," ucap Sharon Cohen selaki dokter yang mengepalai Toronto Memory Programme.
 
Namun, orang lain dalam komunitas ilmiah mendesak agar semua pihak dapat berhati-hati. Sebaiknya tidak langsung memotong dan mencerna hasil uji coba Biogen, karena dikhawatirkan bisa menimbulkan bias dan membuat hasilnya tampak lebih baik dibandingkan sebelumnya.
 
"Paling-paling, Biogen membuat kasus untuk menjalankan percobaan bersih baru untuk menguji hipotesis dosisnya, bukan untuk menempatkan obat ini di pasaran," tutur seorang kolumnis bioteknologi Bloomberg.
 
Asosiasi Alzheimer memperkirakan bahwa hampir 6 juta orang Amerika hidup dengan penyakit yang menyebabkan demensia. Jumlah yang pasti akan tumbuh ketika demografi bangsa bergeser ke populasi yang lebih tua.
 
Begitu juga biayanya, yang diperkirakan mencapai USD290 miliar pada tahun ini. Pada 2050, hampir 14 juta orang akan menderita Alzheimer dan biayanya bisa mencapai USD1,1 triliun per tahun.
 
Sementara itu, ada obat-obatan di pasaran yang meringankan beberapa gejala penyakit alzheimer. Seperti memantine dan donepezil, yang umumnya dijual sebagai aricept dan mengobati gejala kehilangan ingatan. Tetapi sampai sekarang, kata Biogen, belum ada yang menemukan obat yang menyerang patologi.
 
"Kami merasa ini adalah momen penting dalam bidang alzheimer. Bukan bagi kami untuk menentukan apakah analisis ulang dengan data yang lebih lengkap akan layak disetujui atau tidak, karena itu adalah keputusan FDA," kata Maria C. Carrillo selaku kepala petugas sains Alzheimer Association.
 
Aducanumab menggunakan sel-sel yang direkayasa secara genetik yang meniru proses melawan penyakit alami dalam tubuh. Antibodi monoklonal obat ini menargetkan amiloid beta, protein yang akumulasi di otaknya terkait dengan timbulnya demensia.
 
Samantha Budd Haeberlein, Wakil Presiden Biogen untuk pengembangan klinis yang menjelaskan analisis ulang perusahaan, mengatakan bahwa hasilnya ialah tingkat kemunduran untuk pasien yang diberi dosis secara konsisten lebih tinggi.
 
Hasil ini lebih lambat dibandingkan yang diberi dosis rendah seiring waktu atau plasebo, yang diukur dengan tes kognitif dan pemindaian otak mencari biomarker penyakit.
 
Penelitian ini juga menemukan bahwa walaupun efek samping meningkat dengan dosis yang lebih tinggi, mulai dari sakit kepala dan pembengkakan di otak hingga pendarahan kecil, ini juga terbukti dapat dikelola dengan pengurangan dosis. Tetapi kemanjuran obat dalam menyerang penyakit hanya akan jelas ketika perusahaan memeriksa ulang data, setelah penelitian dihentikan pada bulan Maret.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif