Tidur. DOK Unsplash
Tidur. DOK Unsplash

Sering Mengalami Mimpi Buruk? Bisa jadi Sinyal Dini Risiko Demensia Lho!

Renatha Swasty • 12 Januari 2026 17:04
Jakarta: Tahukah Sobat Medcom, rata-rata manusia menghabiskan waktu sekitar enam tahun di sepanjang hidupnya untuk bermimpi? Ternyata, tidur bukan sekadar ajang beristirahat total, tetapi juga sebagai fenomena misterius yang memegang kunci rahasia kesehatan manusia.
 
Melansir laman Science Alert, penelitian terbaru berjudul Distressing dreams, cognitive decline, and risk of dementia yang dipublikasikan dalam jurnal eClinicalMedicine terbitan The Lancet pada 2022 mengungkap mimpi bisa jadi sebuah sinyal penting tentang kondisi kesehatan otak manusia.
 
Penelitian ini menyoroti mimpi buruk yang terjadi terus-menerus pada usia dewasa hingga lansia bukanlah bunga tidur belaka. Namun, frekuensi mimpi buruk ini berkaitan erat dengan peningkatan risiko demensia di masa yang akan datang. 

Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji data dari tiga penelitian besar tentang kesehatan dan penuaan di Amerika Serikat. Data yang dianalisis mencakup lebih dari 600 partisipan berusia 35-64 tahun, ditambah 2.600 partisipan berusia di atas 79 tahun tanpa adanya gangguan demensia. 
 
Penelitian berlangsung pada 2002 hingga 2012. Analisis data tersebut difokuskan pada satu pertanyaan penting, apakah peserta yang sering mengalami mimpi buruk rentan terkena penurunan daya ingat, kemampuan kognitif, maupun demensia. 
 
Setelah itu, para peneliti menemukan pola mengejutkan. Partisipan berusia dewasa yang dikabarkan rutin mengalami mimpi buruk setiap minggu ternyata memiliki risiko empat kali lipat lebih tinggi untuk mengalami demensia dalam sepuluh tahun ke depan. Sementara itu, lansia memiliki risiko dua kali lipat untuk terdiagnosis demensia.
 
Hal yang menarik dalam penelitian ini adalah adanya kesenjangan gender. Terungkap pria lebih rentan terkena demensia. Pria lansia yang sering bermimpi buruk memiliki kemungkinan lima kali lipat terkena demensia, sementara pada wanita peningkatan risikonya hanya berada di angka 41 persen. 
 
Apabila dilihat secara medis, itu berarti mimpi buruk bisa dianggap sebagai alarm dini yang berbunyi sebelum gejala tersebut muncul. Bahkan, mimpi buruk bisa mendahului diangnosis demensia hingga puluhan tahun sebelumnya. 
 
Di sisi lain, ada kemungkinan mengalami mimpi buruk secara teratur justru dapat menjadi faktor pemicu demensia itu sendiri. Mengingat karakteristik penelitian ini, belum bisa dipastikan teori mana yang paling tepat, meskipun peneliti cenderung meyakini teori pertama.
 
Namun, apa pun teori yang nantinya terbukti benar, kesimpulan utama dari penelitian ini tetap konsisten: mengalami mimpi buruk secara rutin di usia dewasa dan lanjut usia berpotensi meningkatkan risiko seseorang terkena demensia di masa mendatang.
 
Kabar baiknya, mimpi buruk yang terjadi berulang kali dapat diobati. Menariknya lagi, beberapa pengobatan medis untuk mengatasi gangguan mimpi terbukti mampu menghambat penumpukan protein beracun yang memicu penyakit Alzheimer.
 
Terdapat pula laporan kasus yang menunjukkan adanya perbaikan pada daya ingat dan kemampuan berpikir setelah pasien menjalani terapi untuk mimpi buruk.
 
Temuan ini memberikan harapan baru bahwa penanganan mimpi buruk mungkin dapat membantu mencegah perkembangan demensia pada sebagian orang. Ini menjadi kajian yang sangat penting untuk dieksplorasi lebih lanjut.
 
Tahap berikutnya dari penelitian ini meliputi penyelidikan apakah mimpi buruk pada usia muda juga berkaitan dengan risiko demensia yang lebih tinggi. Hal ini dapat membantu mengidentifikasi apakah mimpi buruk merupakan penyebab demensia, atau hanya merupakan indikator awal pada sebagian individu.
 
Peneliti juga merencanakan untuk mengkaji apakah aspek lain dari mimpi, seperti seberapa sering seseorang mengingat mimpinya dan seberapa jelas detail mimpi tersebut juga dapat membantu memprediksi kemungkinan seseorang mengalami demensia di masa mendatang.
 
Riset ini bukan hanya memecahkan misteri demensia, tetapi juga memahami salah satu fenomena paling misterius dalam kehidupan manusia. Mimpi bukan hanya sekadar imajinasi, melainkan kode tersembunyi pada otak manusia yang berusaha memberitahu tentang kondisi kesehatannya sendiri. (Talitha Islamey)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan