Keju. DOK Freepik
Keju. DOK Freepik

Benarkah Makan Keju Bisa Kurangi Risiko Demensia? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Renatha Swasty • 02 Februari 2026 11:16
Ringkasnya gini..
  • Riset terbaru yang dipublikasikan oleh jurnal Neurology menunjukkan konsumsi keju berlemak penuh dapat dikaitkan dengan penurunan risiko demensia.
  • Data yang ada tidak membenarkan mengonsumsi keju atau krim dalam jumlah besar sebagai makanan pelindung terhadap demensia atau penyakit jantung.
  • Diet seimbang, moderasi, dan gaya hidup secara keseluruhan jauh lebih penting ketimbang satu jenis makanan tertentu di atas meja.
Jakarta: Pernahkah Sobat Medcom mendengar keju berlemak penuh justru bisa melindungi otak dari demensia? Kebiasaan menghindari produk susu berlemak tinggi yang selama ini dianggap tidak sehat ternyata memiliki sisi lain yang menarik untuk dikaji.
 
Riset terbaru yang dipublikasikan oleh jurnal Neurology menunjukkan konsumsi keju berlemak penuh dapat dikaitkan dengan penurunan risiko demensia. Melansir laman SciTech Daily, sebuah studi jangka panjang di Swedia menemukan orang dewasa paruh baya dan lansia yang mengonsumsi keju berlemak penuh dalam jumlah lebih tinggi memiliki risiko lebih rendah terkena demensia.
 
Meski begitu, para peneliti menekankan pola diet seimbang tetap lebih penting ketimbang satu jenis makanan tertentu. Hal yang perlu dipahami adalah temuan ini bukan berarti keju menjadi makanan ajaib pencegah demensia.

Yang terpenting, yaitu pola makan sehat secara keseluruhan dan gaya hidup yang seimbang. Lantas, bagaimana keju bisa dikaitkan dengan penurunan risiko demensia dan apa yang perlu diperhatikan dalam mengonsumsinya? Simak selengkapnya di bawah ini:

Temuan studi tentang keju dan demensia

Studi yang melibatkan 27.670 orang selama 25 tahun ini mencatat 3.208 peserta didiagnosis menderita demensia. Pada individu tanpa risiko genetik Alzheimer, mengonsumsi lebih dari 50 gram keju berlemak penuh setiap hari dikaitkan dengan penurunan risiko Alzheimer sebesar 13-17 persen. Namun, hubungan ini tidak terlihat pada peserta yang memiliki faktor risiko genetik penyakit tersebut.
 
Pola serupa juga ditemukan pada konsumsi krim berlemak penuh. Orang yang mengonsumsi lebih dari 20 gram per hari memiliki risiko demensia secara keseluruhan lebih rendah 16-24 persen. Sebaliknya, peneliti tidak menemukan kaitan bermakna antara risiko demensia dengan konsumsi susu rendah atau tinggi lemak, susu fermentasi maupun non-fermentasi, atau krim rendah lemak.
 
Kebiasaan konsumsi keju ternyata memiliki keterkaitan dengan kesehatan otak. Hal ini menarik, tapi temuan ini perlu dipahami secara menyeluruh agar tidak salah tafsir. Yuk, cari tahu faktanya.
   

Fakta konsumsi keju dan demensia

Konsumsi keju memang terkesan menjanjikan untuk kesehatan otak, tetapi temuan ini harus dipahami dalam konteks yang lebih luas. Ini menekankan makanan tidak boleh dipandang secara terpisah. Pola diet jauh lebih penting ketimbang bahan makanan individual.
 
Diet seperti Mediterranean yang secara konsisten dikaitkan dengan risiko lebih rendah terhadap demensia dan penyakit jantung, mencakup keju bersama dengan sayuran, ikan, biji-bijian utuh, dan buah-buahan. Keju berlemak penuh mengandung berbagai nutrisi yang relevan untuk kesehatan otak, termasuk vitamin larut lemak A, D, dan K2, serta vitamin B12, folat, iodium, zinc, dan selenium.
 
Nutrisi-nutrisi ini berperan dalam fungsi neurologis dan dapat membantu mendukung kesehatan kognitif. Namun, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan terkait temuan ini.

Dampak gaya hidup terhadap hasil penelitian

Selain itu, ada beberapa dampak gaya hidup yang perlu dipertimbangkan dalam memahami hasil penelitian ini. Dampak tersebut meliputi beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, antara lain:
  1. Dalam studi Swedia, orang yang mengonsumsi lebih banyak keju berlemak penuh juga cenderung lebih berpendidikan
  2. Mereka juga tidak mengalami kelebihan berat badan
  3. Kelompok ini memiliki tingkat kondisi terkait demensia yang lebih rendah seperti penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, dan diabetes
  4. Semua faktor ini secara independen dapat mengurangi risiko demensia
  5. Konsumsi keju yang lebih tinggi cenderung terjadi dalam konteks gaya hidup yang lebih sehat secara keseluruhan
Apabila pola makan dilakukan dengan tepat dan seimbang, manfaat dari berbagai nutrisi dalam makanan dapat optimal. Keju bisa menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dengan bijak dan tidak berlebihan.
 
Lalu, bagaimana cara bijak mengonsumsi keju? Simak selengkapnya.

Tips bijak mengonsumsi keju

Bagi Sobat Medcom yang ingin menjadikan keju sebagai bagian dari pola makan sehat, ada beberapa tips yang bisa diikuti agar tetap aman dan bermanfaat. Berikut tips yang bisa diterapkan, antara lain:
  1. Konsumsi keju sebagai bagian dari pola makan seimbang yang mencakup sayuran, ikan, biji-bijian utuh, dan buah-buahan
  2. Perhatikan porsi dan jangan mengonsumsi dalam jumlah berlebihan
  3. Batasi konsumsi dan kombinasikan dengan gaya hidup sehat lainnya seperti olahraga teratur
  4. Alternatif pola makan yang sehat adalah diet Mediterranean yang terbukti baik untuk kesehatan otak dan jantung
Dengan mengikuti tips ini, seseorang tetap bisa menikmati keju tanpa harus khawatir mengonsumsinya secara berlebihan.

Pesan penting dari penelitian

Meskipun temuan penelitian ini menarik, ada pesan penting yang perlu dipahami. Data yang ada tidak membenarkan mengonsumsi keju atau krim dalam jumlah besar sebagai makanan pelindung terhadap demensia atau penyakit jantung. Berikut hal-hal yang perlu diingat:
  1. Bukti tidak mendukung gagasan bahwa produk susu berlemak penuh menyebabkan demensia.
  2. Produk susu fermentasi juga tidak terbukti secara konsisten melindungi dari demensia.
  3. Beberapa manfaat yang terlihat mungkin mencerminkan penggantian daging merah atau daging olahan dengan keju atau krim.
  4. Studi menemukan tidak ada hubungan antara produk susu berlemak penuh dan risiko demensia pada peserta yang pola makannya tetap stabil selama lima tahun.
Pola makan yang penting diperhatikan, bukan hanya satu bahan makanan. Diet seimbang, moderasi, dan gaya hidup secara keseluruhan jauh lebih penting daripada satu jenis makanan tertentu di atas meja. Semoga informasi ini bermanfaat ya! (Bramcov Stivens Situmeang)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan