Sebuah penelitian menemukan bahwa pil KB hormonal tidak memiliki risiko menyebabkan depresi. (Foto: Simone van der Koelen/Unsplash.com)
Sebuah penelitian menemukan bahwa pil KB hormonal tidak memiliki risiko menyebabkan depresi. (Foto: Simone van der Koelen/Unsplash.com)

Studi Bantah Pil KB Sebabkan Depresi

Rona kesehatan
Sri Yanti Nainggolan • 28 Februari 2018 13:24
Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa pil KB hormonal tidak memiliki risiko menyebabkan depresi. 
 
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tak ada hubungan antara konsumsi pil KB hormonal dan depresi pada wanita. 
 
"Depresi adalah hal yang diperhatikan para wanita saat memutuskan mulai menggunakan kontrasepsi hormonal, terutama saat menggunakan tipe spesifik yang memiliki progesteron," ujar pemimpin studi Brett Worly dari Ohio State University. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Berdasarkan penelitian kami, efek samping tersebut tak perlu dikhawatirkan oleh pada wanita, mereka seharusnya tetap merasa nyaman mengetahui mereka telah membuat pilihan aman."
 
Studi yang dipublikasi dalam jurnal Contraception tersebut menunjukkan ribuan studi tentang efek kesehatan metal dari kontrasepsi, termasuk data tentang metode kontrasepsi apakah injeksi, implan, atau pil. 
 
Studi Bantah Pil KB Sebabkan Depresi
(Sebuah penelitian menemukan bahwa pil KB hormonal tidak memiliki risiko menyebabkan depresi. Foto: Rawpixel.org/Unsplash.com)
 
Mereka menemukan tak ada bukti yang cukup untuk membuktikan adanya hubungan antara kontrasepsi dan depresi. 
 
(Baca juga: Pil Kontrasepsi Kombinasi Paling Digemari Perempuan, Ini Alasannya)
 
Ketika asumsi pil KB memicu depresi muncul, para peneliti menganggap bahwa komplikasi tambahan sering kali dilebih-lebihkan, dimana media sosial turut berperan.
 
"Kita hidup di media yang cerdas dimana jika satu atau beberapa orang memiliki efek samping yang parah, tiba-tiba, semakin menguat pada setiap orang," kata Worly.
 
Menurutnya, kesalahpahaman terbesar adalah alat kontrasepsi dapat menyebabkan depresi. Padahal, pada beberapa pasien, bukan hanya itu masalahnya. 
 
Namun, depresi pada orang dewasa dan ibu hamil juga berisiko lebih besar. 
 
"Pada beberapa pasien, penting bagi mereka untuk memiliki hubungan baik dengan penyedia layanan kesehatan sehingga bisa mendapatkan skrining yang tepat, sesuai dengan obat-obatan yang mereka konsumsi," tukasnya.
 

 

 



 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif