Ilustrasi-Pexels
Ilustrasi-Pexels

Apakah Masa Pandemi Covid-19 Bisa Merenggangkan Sebuah Hubungan?

Rona hubungan pasangan
Kumara Anggita • 19 Mei 2020 15:10
Jakarta: Covid-19 yang tak kunjung usai sangat buat kita khawatir. Hal ini bahkan memengaruhi banyak hubungan menjadi renggang.
 
Bila masa-masa covid-19 membuat Anda dan pasangan jadi sering bertengkar, apakah ini sebuah pertanda buruk bahwa hubungan Anda memang harus berakhir? Berikut penjelasannya oleh Reynitta Poerwito, Bach of Psych.,M.Psi.,Psikolog.
 
Hubungan yang merenggang dalam masa apa pun adalah hal yang normal. Justru situasi ini bisa Anda gunakan untuk saling mengenal satu sama lain secara lebih mendalam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Hubungan merenggang itu merupakan sebuah situasi yang normal. Kan enggak akan ada hubungan yang super lengket terus menerus. Jangan takut akan hubungan yang renggang, justru ini saatnya pasangan untuk bisa saling belajar dalam menghadapi konflik yang sedang berlangsung,” ujar Reynitta kepada Medcom.id.
 
Bila saat ini Anda berpikiran untuk mengakhiri hubungan tersebut, ada baiknya Anda tahan dulu. Ini karena saat masa covid-19 selesai, bisa saja keputusan Anda justru akan berbeda.
 
“Mempertahankan atau tidak itu harus melewati perjuangan dulu agar kita tidak menyesal. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan yang besar, seperti mengakhiri hubungan, karena nanti bisa berujung penyesalan,” ungkapnya.
 
Lebih baik Anda terbuka menyampaikan perasaan dan permasalahan dengan pasangan. Cari tahu cara terbaik untuk keluar dari masalah itu dan usahakan.
 
“Kalau ada konflik coba dikomunikasikan terlebih dahulu dan apakah ada jalan keluarnya? Bagaimana pasangan menghadapi konflik itu merupakan salah satu hal yang mendasar yang perlu dikuasai agar pasangan bisa menjadi solid,” jelasnya.
 
Ditambah lagi saat ini semua dalam keadaan tertekan. Jadi wajar saja ada perubahan sikap yang muncul satu sama lain.
 
Perubahan sikap dan mood selama pandemi memang seringkali terjadi. Bisanya itu terjadi karena tekanan-tekanan yang timbul selama masa social distancing. Selain itu, perubahan mood dan sikap seseorang memang normal terjadi selama masa adaptasi.
 
"Pandemi ini kan menyebabkan adanya perubahan pada kehidupan kita sehari-hari, bagi beberapa orang yang sulit untuk beradaptasi dengan berubahnya situasi dan rutinitas dalam kesehariannya,” tutup Reynitta.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif