Cerita di Balik Kain Tenun NTT di Peragaan Busana Internasional
Perajin menyelesaikan produksi tenun ikat khas pulau Rote di Kupang, NTT. (Foto: ANTARA/Kornelis Kaha)
Jakarta: Indonesia patut bangga. Ragam budaya yang dimiliki Nusantara tak henti-hentinya melahirkan banyak prestasi di kancah internasional.

Baru-baru ini Julie Laiskodat, pemilik butik LeVico, memamerkan koleksi busana berbahan kain tenun khas Nusa Tenggara Timur (NTT) ke peragaan busana internasional Paris Fashion Week 2018.

Melalui tangan kreatif desainer Defrico Audy dan Yurita Puji, kain tenun NTT yang sarat makna disulap menjadi busana yang simpel, elegan, dan glamor.


Proses kain tenun NTT yang dibawa Julie ke dunia internasional tidak instan. Ketekunan dan kesabarannya mempromosikan kain etnik ini membawanya dari panggung ke panggung peragaan busana internasional.

Bermula dari peragaan busana New York Fashion Week 2017, Julie yang saat itu memamerkan belasan koleksi busana dari kain tenun NTT mendapatkan kesempatan untuk kembali hadir dalam acara serupa di Paris, Prancis.

"Mereka (event organizer) tertarik melihat koleksi tenun NTT dari dua kabupaten yang saya bawa. Akhirnya dari Paris memberi undangan untuk mengikuti ajang Paris Fashion Week 2018, 3 Maret kemarin," ungkapnya, dalam Selamat Pagi Indonesia, Selasa, 13 Maret 2018.

Di Paris Fashion Week, Julie membawa 18 koleksi busana tenun NTT yang berasal dari Pulau Rote, Sabu, dan Alor. 

Ia menuturkan, setiap kain tenun yang dipamerkan dalam peragaan busana memiliki makna tersendiri. Kain tenun dari Pulau Sabu misalnya, meski tergolong dalam wilayah paling kering di NTT, perajin yang sebagian besar adalah para ibu menunjukkan keuletan dan kegigihannya dalam selembar kain tenun.

"Bahkan saking keringnya mereka harus menanam tumbuhan di bebatuan. Tapi karena gigih tanaman buah-buahan pun berbuah," tutur Julie.

Lain halnya dengan kain tenun dari Pulau Sabu, ciri khas kain dari Pulau Rote didominasi oleh warna hitam dan putih dengan garis merah. Rote sendiri dikenal sebagai wilayah yang memiliki alat musik sasando.

Sementara kain dari Pulau Alor sering 'dibumbui' dengan motif burung. Julie mengatakan simbol burung dimaknai sebagai budaya hidup saling menghormati dan menghargai masyarakat NTT yang memang berasal dari beragam suku dan agama.

"Boleh dibilang, ketertarikan orang Amerika dan Eropa merupakan apresiasi mereka terhadap budaya kita. Mereka lebih banyak tertarik dengan cerita di balik budaya Indonesia khususnya NTT dari selembar kain tenun," katanya. 

Serupa dengan apresiasi dari dunia internasional, respons yang diberikan para ibu perajin tenun di NTT juga mengejutkan. Masyarakat di NTT, kata Julie, mungkin tak mengetahui di mana letak Eropa atau Amerika, namun mereka merasa upaya Julie membawa kain tenun NTT ke dunia internasional mengangkat harkat dan martabat mereka.

"Mereka (perajin) sampai menangis terharu. Selama ini mereka merasa bukan siapa-siapa tapi dengan karya ini harkat dan martabat mereka terangkat," ungkap Julie. 

Butuh campur tangan pemerintah

Sayangnya, meski diminati oleh dunia internasional, Julie tak bisa berbuat banyak. Ia mengaku kendala untuk memenuhi pasar internasional ada pada stok yang terbatas.

Julie mungkin punya ikatan kerja sama dengan sejumlah perajin di NTT untuk menjalankan usaha butiknya. Namun ada lebih banyak lagi perajin yang perlu dirangkul untuk melebarkan sayap promosi kain tenun NTT ke dunia. 

Menurut dia, selain swasta dan korporasi yang dijalankan oleh pribadi, pemerintah daerah juga semestinya ikut bekerja sama dengan kelompok perajin lokal untuk memasarkan produk tenun NTT.

"Kalau kita mau 'perang' promosi agar orang mau membelinya harus ada stok lebih dulu. Makanya harus kerja sama bareng," katanya.

Kendala lain yang membuat peningkatan ekonomi masyarakat NTT terus terhambat, kata Julie, ada pada motif kain yang mulai marak dibuat dalam versi cetakan. Tidak lagi ditenun.

Ia mengatakan secara langsung kondisi ini mematikan mata pencaharian perajin di NTT. Padahal kain tenun adalah salah satu penunjang ekonomi masyarakat lokal selain dengan hanya bertani atau sebagai nelayan.

"Kalau tenun printing itu merajalela, pasti hasil dari perajin tidak akan laku," pungkasnya.





(MEL)