Cara Menghadapi Anak yang Doyan Pamer
Berikut kiat yang bisa membantu membatasi anak yang hobi pamer. (Foto: Zhu Liang/Unsplash.com)
Jakarta: Sekelompok bocah perempuan tengah asyik mengobrol sambil menikmati es krim. Sejenak mereka beradu argumen. Saling membanggakan barang yang dimiliki orang tuanya. 

“Ayahku punya gigi emas.” kata seorang bocah perempuan berbaju hitam dan putih. Sontak teman yang mendengar terheran-heran sekaligus kagum.

"Wow, gigi emas?"


Tak semua yang kagum rupanya. Bocah lain yang mendengar kalimat pongah itu terlihat kesal. Sambil mengernyitkan dahi, dia mengingat apa yang dimiliki oleh orang tuanya.

"Ayahku punya diabetes."

Mungkin Anda sering mendengar percakapan semacam ini pada anak. Atau barangkali juga terjadi pada anak Anda. Mereka saling adu argumen dan memamerkan kelebihan satu sama lain.

Namun jangan khawatir. Hal ini ternyata lumrah terjadi. Stephanie Mihalas, Ph.D, psikolog dan founder Center for Well-Being mengatakan kalau aksi saling pamer ini normal. Biasanya mulai dilakukan anak ketika usianya sudah menginjak 5 atau 6 tahun. 

Mihalas mengatakan bahwa anak pada usia tersebut, anak-anak masih mencari tahu perbedaan antara dirinya dan orang lain. Maka tak heran jika mereka sering beradu argumen soal bakat, prestasi bahkan membanggakan apa yang dimilikinya pada teman bermain.

Meski sifat pamer ini tidak berbahaya, namun orang lain bisa menangkapnya dengan cara yang salah. Nah, agar tak berlanjut, ada kiat-kiat yang bisa membantu membatasi anak yang hobi pamer, dinukil Parents.


(Pujian memang penting untuk anak Anda. Namun sebaliknya jangan terlampau sering dan berlebihan. Pujian harus efektif agar tak membentuk anak menjadi haus pujian. Foto: Annie Spratt/Unsplash.com)

(Baca juga: Hubungan Antara Sifat Anak-anak ketika Sudah Dewasa)

1. Tunjukkan dan nasihati
Banyak anak usia 5 atau 6 belum mengerti apa yang mereka katakan. Mereka bahkan tak tahu makna dari pamer dan dampaknya pada orang lain yang mendengar.

Untuk itu, Anda mesti meluangkan waktu untuk menjelaskan apa itu pamer kepada anak. Anda juga harus menjelaskan dampak negatif dari pamer yang sebetulnya bisa menyakiti orang lain.

"Katakan pada anak bahwa pamer itu ketika membicarakan tentang semua mainan keren dan kemampuan apa yang anak Anda lakukan. Jelaskan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan karena bisa membuat teman yang tidak memilikinya menjadi sedih,” kata Mihalas.

2. Jangan membandingkan anak
Sering membandingkan anak Anda dengan saudaranya karena prestasinya lebih atau tak sebaik kakaknya? Hal tersebut rupanya tidak baik didengar anak. 

Mereka akan cenderung memamerkan hal tersebut pada orang lain. Atau bisa membuat mereka membual untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.

3. Memberikan pujian yang tepat
Selain itu, memuji anak jika berhasil meraih sesuatu juga tak boleh berlebihan. cukup berikan pujian sekenanya saja agar anak bisa memiliki sifat rendah hati.

"Sebaliknya, jadilah spesifik dengan pujian Anda dan tekankan usaha daripada hasil akhir. Misalnya cukup dengan ucapan, kerja bagus nak, kamu pasti sangat bangga pada dirimu sendiri," ujar Mihalas.

Pujian memang penting untuk anak Anda. Namun sebaliknya jangan terlampau sering dan berlebihan. Pujian harus efektif agar tak membentuk anak menjadi haus pujian.





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id