Mengapa remaja sulit untuk patuh dalam karantina covid-19? Coba Anda duduk bersama mereka, biarkan mereka mencurahkan perasaannya, dan berikan simpati Anda. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Mengapa remaja sulit untuk patuh dalam karantina covid-19? Coba Anda duduk bersama mereka, biarkan mereka mencurahkan perasaannya, dan berikan simpati Anda. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Cara Mengajak Anak Remaja Patuh Ikuti Karantina Covid-19

Rona psikologi remaja covid-19
Kumara Anggita • 10 April 2020 14:05
Jakarta: Saat ini semua orang diminta untuk mengarantina dirinya sendiri di rumah demi menghindari penyebaran covid-19 yang belum kunjung selesai. Namun sayangnya, tidak semua orang mau mematuhinya, terlebih anak remaja yang sedang terjadi pergolakan dalam dirinya.
 
Bila Anda dalam situasi ini, ada cara untuk mengajak anak remaja Anda untuk mau mematuhi aturan yang sudah diterapkan oleh pemerintah. Dilansir dari Psychology Today, mengarantina anak remaja tidaklah mudah.
 
"Kebanyakan orang tua hanya menetapkan hukuman untuk membuat mereka jera. Sayangnya cara ini bukanlah yang paling efektif," ulas Lea Lis MD, selaku psikolog. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengungkapkan masa remaja adalah masa demokrasi, bukan kediktatoran. Anda direkomendasikan untuk berkompromi. 
 

Untuk mempermudah Anda melakukannya Lis memberikan rekomendasi seperti berikut ini:
 
 

Cara Mengajak Anak Remaja Patuh Ikuti Karantina Covid-19
(Duduk saja bersama mereka, biarkan mereka mencurahkan perasaannya, dan berikan simpati Anda. Foto: Pexels.com)

1. Berikan apa yang dia mau di rumah

Ini mungkin bisa dilakukan dengan memberi mereka lebih banyak kebebasan dan ruang untuk melakukan apa yang mereka inginkan ketika mereka di rumah. 
 
Bisa juga dengan tidak marah jika mereka melewatkan makan malam, atau menghabiskan waktu berjam-jam bermain game. Gunakan kebebasan itu sebagai chip negosiasi untuk menyimpan anak Anda di rumah dengan aman. 

2. Berikan mereka kesempatan untuk bertemu temannya

Pilihan lain mungkin untuk memungkinkan mereka melihat teman-teman, tetapi dengan syarat melakukan social distancing atau gunakan aplikasi digital untuk bertemu secara online. 

3. Anda bisa juga berlaku kreatif di sini

Seperti membuat piknik di mana semua orang tinggal di selimut mereka sendiri (nyamankan diri sendiri). Jika Anda hanya menetapkan hukum, itu mungkin menyebabkan anak remaja menjadi subversif dan menyelinap keluar diam-diam atau terlibat dalam perilaku berisiko lainnya. 

4. Berikan mereka waktu berduka

Masalah lain bagi banyak remaja adalah mereka kehilangan banyak hal. Beberapa dari mereka kehilangan wisuda dan pesta prom yang telah ditunggu-tunggu. Ini kerugian nyata bagi mereka. 
 
Dalam masa ini, Anda harus berkorban demi kebaikan yang lebih besar. Hal ini bisa dilakukan dengan memberi mereka waktu untuk berduka dengan semua tahap kesedihan atas kehilangan mereka yang merupakan masalah besar. Terus dampingi mereka dan lakukan perbincangan layaknya bersama teman agar mereka mau terbuka.
 
Biarkan mereka melalui lima tahap kesedihan antara lain penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan (Elisabeth Kubler-Ross, M.D., Death & Dying). 
 
Jangan mengatakan hal-hal seperti, "Kita semua menderita sekarang..” atau "Bagaimana dengan orang-orang yang benar-benar sekarat..”
 
Sebagian besar remaja tidak dapat melakukan intelektualisasi seperti itu, dan Anda hanya akan mendorong anak remaja Anda menjauh dan mereka tidak akan mendatangi Anda lagi. 
 
Duduk saja bersama mereka, biarkan mereka mencurahkan perasaannya, dan berikan simpati Anda. Ini mungkin kelihatannya tidak penting bagi Anda, tetapi itu harus karena itu penting bagi anak Anda yang masih remaja.


 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif