Pasangan tersebut akhirnya memutuskan mengikuti program bayi tabung, saat Firli berusia 38 tahun. Perobaan pertama, pasangan ini hanya memiliki tingkat keberhasilan 40 persen, dan gagal.
"Karena hormon FSH saya rendah, jadi tidak berhasil," jelas Firli dalam media gathering di Clinic Teratai: Bring Hope to Reality, Jakarta, Selasa (3/5/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Tak lekas menyerah, tiga bulan kemudian, pasangan ini kembali mencoba program bayi tabung. Tiga bulan adalah waktu yang tepat untuk pemulihan dan penetralan rahim. Namun, upaya pasangan ini masih gagal.
"Setelah dilihat, ternyata ada mium di dekat rahim yang menghalagi asupan gizi ke embrio, dan membuat aliran daerah tak lancar," katanya.
Mengetahui hal tersebut, pihak dokter pun memutuskan untuk mengubah posisi embrio dalam rahim agar mium tidak menghalangi jalur perkembangan embrio.
Firli menjelaskan, bila mium diambil, maka dibutuhkan jeda selama satu tahun untuk biaa melakukan program bayi tabung lagi, mengingat perlunya pemulihan. Namun, dokter memberi pilihan lain, yakni mium diambil saat proses persalinan. Tetapi artinya, Firli harus melahirkan caesar.
Firli pun menyetujui pilihan kedua. Satu tahun setelah kegagalan kedua, Fieli mencoba kembali program bayi tabung untuk ketiga kalinya.
"Pada saat mencoba yang ketiga, saya sudah pasrah. Alhamdullilah berhasil," tutupnya.
Anak mereka kini berusia sembilan bulan dan tumbuh dengan sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(DEV)
