Ilustrasi--Pexels
Ilustrasi--Pexels

Penanganan yang Tepat ketika Anak Menyaksikan Orang Tua Bertengkar

Rona psikologi anak
Sunnaholomi Halakrispen • 14 Agustus 2019 13:28
Ada sejumlah efek negatif yang terjadi, ketika anak menyaksikan pertengkaran hebat orang tuanya. Jika itu terjadi, sebaiknya orang tua mendekatkan diri pada si kecil sebelum dia merasa tertekan, stres, atau ketakutan melihat orang tuanya bertengkar.
 

Jakarta:
Anak yang menyaksikan pertengkaran hebat orang tuanya berisiko menyebabkan kekacauan emosi dan trauma pada anak. Khususnya, tentang bagaimana nantinya si buah hati menjalin hubungan ketika beranjak dewasa.
 
Sebelum hal itu terjadi, ada baiknya mengontrol emosi Anda ketika bertengkar dengan suami atau istri bertepatan dengan keberadaan si buah hati. Dekatkan diri pada si kecil sebelum dia merasa tertekan, stres, atau ketakutan melihat orang tuanya bertengkar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Beri penjelasan pada anak secara rasional, bahwa kedua orang tuanya sedang berargumen, minta maaf. Beri Papa Mama waktu karena sedang berargumen," Roslina Verauli, M.Psi, Psi. selaku Psikolog Anak RS Pondok Indah-Pondok Indah kepada Medcom.id di Jakarta.
 
Setelah diberikan penjelasan tentang kondisi yang sedang disaksikan si kecil, usahakanlah argumen antara Anda dan pasangan tersebut cepat selesai dan saling memaafkan kembali. Tidak sampai di situ, jelaskan juga sehingga anak melihat dinamikanya.
 
"Jelaskan juga ke anak kalau orang tuanya sudah berbaikan. Orang dewasa memang begitu, kamu juga sama teman-teman pasti ada konflik kan, nah kadang-kadang bertengkar, tapi bukan berarti jadinya musuhan. Jadi anak dibantu untuk paham situasi," jelasnya.
 
Vera pun memaparkan bahwa dirinya melakukan hal yang sama tersebut. Ketika berbeda pendapat dan berargumentasi dengan sang suami, ia menjelaskan kepada sang buah hati tentang situasi kedua orang tuanya.
 
"Kalau dulu di awal-awal, baru pertama kali melihat nih, dia kaget, takut, sehingga butuh ditenangkan setelahnya. Tapi makin tumbuh, 8-9 tahun umurnya, dia makin paham Papa Mamanya lagi argumen dan dia kasih kita space untuk kita menyelesaikannya," imbuhnya.
 
Meskipun keberadaan anak tidak tepat ada di dekat Vera yang tengah berargumen dengan suaminya, Vera membiasakan cara tersebut. Sebab, akunya, anak sebenarnya mengamati walaupun sedang berada di kejauhan dan Vera memberikan wawasan pada anak tentang cara mengatasi masalah atau problem solving.
 
Cara ini berbeda apabila Anda sebagai orang tua tidak sempat menjelaskannya kepada sang anak. Bisa dikatakan bahwa Anda telat menyadari bahwa anak Anda terkena dampak pertengkaran Anda dengan pasangan hingga menyebabkan trauma tersendiri pada di kecil.
 
"Ajak anak cerita dulu tentang apa yang dia rasakan,  Enggak buru-buru ke pakar.
Ajak anak memahami ada perubahan perilaku yang ditampilkan atau enggak, sadar enggak bahwa belakangan dia berubah dan apa yang bikin dia berubah," katanya.
 
Lakukan secara perlahan, karena anak tidak sangat ekspresif untuk menceritakan perasaannya. Terlebih, ketika anak merasa ketakutan atau khawatir.
 
Coba perhatikan, biasanya ada perubahan perilaku pada anak saat mereka merasa tertekan, stres, atau merasa sangat sedih, terganggu secara emosional.
 
Dekatkan diri Anda ke anak, bujuk dan rayu dia dengan pendekatan yang sederhana. Bisa dengan mengajaknya bercerita dengan gambar-gambar, permainan-permainan, sehingga ketegangan anak perlahan lenyap atau menjadi lega.
 
"Tapi kalau masih gagal, boleh sih ketemu pakar untuk dipahami apa isu sesungguhnya. Orang tua harus tahu apa yang dirasakan anak, apa yang bisa orang tua lakukan untuk membuat perasaan dia jauh lebih baik," pungkas Vera.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif