Jakarta: Setiap orang tua pasti menginginkan buah hati yang mandiri. Beragam keterampilan pun diajarkan sejak dini, agar anak mandiri ketika remaja hingga dewasa.
Sayangnya menurut sebuah survei, orang tua malah justru yang menyebabkan para remaja menjadi gagal mandiri. Sebabnya, pola asuh orang tua seringkali terlampau memanjakan anak.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Studi kami menunjukkan bahwa orang tua terlampau terlibat pada proses transisi anak," kata Sarah Clark dari University of Michigan, Inggris, dikutip Times of India.
Sarah mengatakan, proses transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa meliputi segala hal. Mulai dari mempersiapkan pekerjaan dan tanggung jawab finansial hingga menjaga kesehatan dan kesejahteraan anak. "Ini yang membuat banyak remaja tidak menjadi mandiri," ujarnya.
Dalam studinya, Sarah dan para peneliti melakukan studi terkait pola asuh terhadap 877 orang tua dari Inggris. Mereka merupakan orang tua yang setidaknya memiliki satu anak berusia 14-18 tahun.
Para peneliti menyatakan bahwa 60 persen orang tua mengaku anak-anak mereka tidak mandiri. Sebesar 24 persen resoonden mengaku anaknya tidak cukup dewasa, sebesar 22 persen tidak bisa mengatur waktu serta 14 persen tidak cukup bertanggung jawab.
"Sebaliknya, seperempat dari orang tua mengakui bahwa peran mereka dalam menghambat kemandirian remaja mereka," ungkap Sarah.
Sarah mengatakan, sebanyak 19 persen responden mengaku lebih cepat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan anak mereka. Sementata 7% orang tua lainnya tidak berpikir tentang bagaimana memberi tanggung jawab lebih pada remaja.
"Padahal mengasuh anak adalah tentang belajar merawat dan mengendalikan dengan cara yang tepat. Otonomi bagi kaum muda penting untuk pengembangan identitas mereka," ujar Sarah.
Hal serupa diungkapkan Bhagat Rajput, konsultan dan psikiatri dari Rumah Sakit Manipal di Delhi. Menurutnya gagal memiliki kemandirian karena adanya kesenjangan generasi antara anak dengan orang tua.
"Kesenjangan ini terlihat karena masing-masing dari mereka tumbuh dalam dua waktu dan budaya historis yang terpisah, yang memengaruhi pandangan, nilai, dan selera," ungkap dia.
Rajput mengungkapkan, orang tua masih sernig bertindak sebagai pemandu bagi remaja. Hal ini menyebabkan anak tidak memiliki identitas menjadi sesorang yang mandiri.
"Orang tua menempatkan penghalang pada setiap langkah anak. Orang tua berpikir mereka menasihati atau membantu, tetapi terlalu banyak campur tangan tidaklah elok," ujar dia.
Untuk itu, Rajput merekomendasikan orang tua memosisikan diri sebagai sumber daya cadangan. Maksudnya, orang tua hanya berperan sebagai konsultan, jika remaja tidak dapat menangani masalah secara mandiri.
"Orang tua juga harus membangun tonggak spesifik dan menciptakan peluang untuk membimbing anak dalam mendapatkan pengalaman dan kepercayaan diri saat mencapai tujuan itu," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(YDH)
